<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657</id><updated>2012-02-16T16:49:36.746+07:00</updated><category term='Ke-HMI-an'/><category term='Logika dan Filsafat'/><category term='Umum'/><category term='Motivasi'/><category term='Sains Islam'/><category term='Perasuransian'/><category term='Perubahan Sosial'/><category term='Perkaderan'/><title type='text'>HMI Komisariat STMA Trisakti: Ekspresi Pikiran...</title><subtitle type='html'>Setiap manusia pasti mempunyai pikiran yang darinya dia akan menghasilkan ide-ide brilian yang dapat mengubah dunia....</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-7768540932955735447</id><published>2009-02-17T13:15:00.002+07:00</published><updated>2009-02-17T13:26:51.330+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>REFLEKSI 62 TAHUN: BUBARKAN HMI!</title><content type='html'>Oleh: Pradikta Dwi Anthony &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;62 tahun merupakan usia yang sudah cukup tua untuk ukuran sebuah makhluq (sesuatu yang diciptakan), baik yang bersifat mekanis maupun yang bersifat organis. Tidak dapat dipungkiri bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sebuah organisasi mahasiswa ekstra universiter tertua di Indonesia, karena hari ini (5/2) usianya genap 62 tahun, bahkan banyak yang mengatakan kalau HMI juga merupakan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Namun apakah ukuran kebesaran dari HMI, kuantitas ataukah kualitas? Memang dengan jumlah anggota yang tersebar hampir di setiap perguruan tinggi yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa secara kuantitas HMI merupakan organisasi terbesar di Indonesia. Namun secara substansi, klaim suatu organisasi itu besar atau tidak bukan dilihat dari segi kuantitasnya, tetapi dari segi kualitasnya yaitu intelektualitas dan seberapa besar memberikan pengaruh dan kontribusi untuk masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Pasal 9 Anggaran Dasar HMI menyebutkan bahwa “HMI merupakan organisasi perjuangan”, sementara Endang Saifuddin Anshari dalam bukunya “Pokok-pokok Pikiran Tentang Islam”  menuliskan bahwa setiap organisasi perjuangan harus memiliki sekurang-kurangnya lima anasir inti organisasi, yaitu dasar yang tegas; tujuan yang jelas; pimpinan yang representatif; anggota yang konkrit; dan usaha yang positif kreatif. Oleh karena itulah, HMI sebagai organisasi perjuangan harus memiliki minimal kelima anasir inti organisasi di atas. Pertanyaannya kemudian adalah, sudahkah HMI memiliki itu semua dan dijalankannya? Mari kita coba bedah lalu analisis mengenai hal tersebut dan eksisitensi HMI selama 62 tahun ini melalui sedikit tinjauan yang penulis sebut filosofis-historis-konstitusional.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Dasar (Azas) Yang Tegas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari nama juga dalam Pasal 3 Anggaran Dasar-nya yang menyebutkan bahwa ”HMI berazaskan Islam”, meniscayakan bahwa setiap aktivitas organisasi HMI, baik internal maupun eksternal, haruslah mengandung nilai-nilai keislaman (Islami). Sejarah menyebutkan bahwa HMI lahir ketika bangsa dan negara Indonesia sedang dalam upaya mempertahankan kemerdekaannya dari kolonialis-kolonialis asing.&lt;br /&gt;Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, bukanlah suatu sebab utama dipilihnya Islam sebagai azas HMI ataupun karena para pendirinya adalah seorang muslim. Menurut penulis, pemilihan Islam sebagai azas HMI lebih karena Islam adalah suatu ajaran (agama) yang benar dan universal, dimana faktor agama Islam (’aqidah, syari’ah dan akhlaq) itu sendiri, pada awal mula masuknya Islam di Indonesia, ternyata lebih bisa dan banyak “berbicara” kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia serta dinilai membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia .&lt;br /&gt;Namun, cita-cita yang dibangun oleh para founding fathers (pendiri)-nya agar HMI berazaskan Islam akan sangat sia-sia dan tidak bermakna bila realitanya ternyata sangat bertentangan dengan  ide/cita-citanya itu. Penjajahan sebagai salah satu musuh besar Islam ternyata masih saja terjadi di Indonesia dewasa ini, entah itu oleh pihak asing maupun oleh bangsanya sendiri. Indikasi pengidapan sipilis (sekularisme-pluralisme-liberalisme) oleh para “HMI-ers” pun sangat kentara, hal ini dapat dilihat dari perilaku anggotanya yang terlalu struktural-materialistis.&lt;br /&gt;Islam sebagai suatu dasar (azas/ideologi) organisasi ini pun hanya dipahami sebagai suatu perangkat nilai yang strategis, dimana Islam tidak perlu di demonstrasikan secara tegas bila akan memberikan implikasi yang negatif akibat berbenturan dengan realitas sosial/kekuasaan yang ada, demi kepentingan oknum-oknumnya. Dengan begini, masihkah HMI memiliki dasar yang tegas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Tujuan Yang Jelas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara filosofis, rumusan tentang tujuan suatu organisasi haruslah stasioner tidak boleh merupakan suatu proses, karena setiap proses bukanlah tujuan, melainkan usaha; sedangkan usaha itu bukanlah tujuan. Ada berbagai macam tujuan: tujuan terakhir, tujuan intermedier dan tujuan jangka dekat. Ada tujuan umum di samping tujuan khusus. Ada tujuan urgen, tujuan insindental, dan seterusnya. Tujuan yang dirumuskan dalam Anggaran Dasar Organisasi haruslah tujuan terakhir (tujuan umum) organisasi termaksud. Oleh karena itulah, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahuwata’ala” merupakan tujuan HMI yang terdapat dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI, yang merupakan suatu konsekuensi logis HMI sebagai organisasi mahasiswa yang berazaskan Islam.&lt;br /&gt;Di dalam melaksanakan usahanya dalam rangka mencapai tujuan akhir (ultimate goal)-nya, unsur pimpinan haruslah menggunakan Strategi, Taktik dan Teknik perjuangan. Dimana hubungan antara ketiganya ialah fungsi teknik adalah untuk memenangkan taktik, fungsi taktik adalah untuk memenangkan strategi dan fungsi strategi adalah untuk memenangkan dan menjayakan Prinsip (Dasar dan Tujuan asasi) organisasi tersebut . Dasar dan Tujuan terakhir perjuangan ummat Islam adalah masalah Prinsip. Islam sebagai Prinsip perjuangan HMI haruslah mempunyai nilai kekal abadi, tidak berubah dengan pergantian waktu dan peralihan tempat apalagi oleh “kepentingan”.&lt;br /&gt;Namun setelah lebih dari 62 tahun berdiri apakah tujuan HMI telah tercapai, minimal dalam lingkup yang paling kecil? Ketidakadilan yang berupa kesenjangan antara si kaya dan miskin yang terlalu jauh, ketidakadilan dalam pemenuhan hak-hak dan kewajiban juga ketidakadilan untuk mendapatkan perlakuan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan merupakan beberapa contoh dari banyaknya ketidakadilan yang ada di negara ini, yang sayangnya cukup untuk menisbahkan bahwa HMI hampir tidak berbuat apa-apa dalam pemenuhan tujuannya. Entah hal ini disebabkan karena kesalahan dalam penggunaan strategi, taktik atau pun teknik, yang jelas HMI saat ini tidaklah memiliki tujuan yang jelas karena tidak pernah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Pimpinan Yang Representatif, Anggota Yang Konkrit dan Usaha Yang Positif Kreatif&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Proses regenerasi dalam suatu organisasi pada umumnya sama, yaitu menggunakan suatu sistem demokrasi determinis (sistem suara) sehingga dianggap menghasilkan suatu keputusan (pimpinan baru) yang representatif. Terkait dengan cara-cara untuk melakukan hal ini biasanya disebut dengan politik (suatu perjuangan untuk memperoleh kekuasaan) .&lt;br /&gt;Dalam rangka memanfaatkan negara/institusi lainnya sebagai media realisasi amanat khilafat dan sebagai alat pengabdian kepada Allah Subhanahuwata’ala, maka seharusnya politik adalah salah satu−bukan satu-satunya−aspek penting dalam perjuangan ummat Islam; berjuang tidak identik dengan berpolitik; dan politik bukanlah sentral perjuangan ummat Islam. Sehingga sebagai organisasi mahasiswa Islam, HMI sebagai organisasi perjuangan seharusnya tidak serta-merta berduyun-duyun menjadikan poltik sebagai satu-satunya tempat untuk berjuang dalam mencapai tujuannya. Terlebih lagi tidak seharusnya HMI dalam berpolitik merujuk kepada definisi politik secara an sich sehingga menegasikan moral dalam berpolitik serta menjadi seorang yang opportunis-pragmatis dan melaksanakan semboyan: Tujuan menghalalkan cara (The ends justifies the means) .&lt;br /&gt;Yang terpenting dari proses regenerasi demi mendapatkan suatu pimpinan yang representatif bukanlah pada hasilnya, namun pada cara-cara untuk mencapai posisi pemimpin tersebut. Dalam sistem Islam dikenal suatu sistem yang bernama khilafah/khalifah, dimana dalam sistem ini yang berhak untuk memegang tongkat kepemimpinan tidaklah dilihat dari unsur banyaknya harta, trah (silsilah), kedekatan dengan seseorang yang berpengaruh/pemimpin sebelumnya dan lain-lain. Tetapi didasarkan kepada iman, ilmu dan amalnya, sehingga pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang memiliki visi profetik (kenabian), yang biasanya tidak hanya representatif karena mengajukan/mencalonkan diri namun representatif (bahkan mutlak) didaulat oleh seluruh warganya.&lt;br /&gt;Sementara itu, seharusnya dalam proses regenerasi di tubuh organisasi (HMI) tidak hanya tentang regenerasi kepemimpinan, tetapi seharusnya juga membahas mengenai apa, bagaimana dan seperti apa organisasi ini nantinya ke depan, yang akan berimplikasi terhadap keputusan-keputusan internal dan eksternal organisasi demi kemaslahatan ummat. Namun ternyata yang ada dan paling substansial dalam proses regenerasi tersebut (Kongres, dll) hanya sebatas perhelatan pemilihan pemimpin baru yang sangat kental dengan definisi politik secara an sich dan sedikit baku hantam.&lt;br /&gt;Dalam konteks hubungan antara organisasi dengan anggotanya, maka dapat dianalogikan bahwa anggota adalah nyawa yang berkehendak sedangkan organisasi adalah jasadnya untuk berkehendak. Anggota yang konkrit merupakan suatu kemestian organisasi formal seperti HMI, karena tanpa anggota yang konkrit tersebut HMI hanyalah berupa simbol: lambang dan nama organisasi. Lalu bagaimana jika ternyata di dalam HMI masih terdapat banyak perangkat-perangkat organisasi yang inkonstitusional, seperti adanya ghost rider? Dimana hal ini dapat dilihat dari adanya suatu fakultas dalam sebuah perguruan tinggi yang sudah ditutup sekian lama, namun nama perangkat organisasi (Komisariat dan anggota)-nya tetap diakui dan dilegalkan; jumlah anggota yang ada dalam suatu wilayah (kota, fakultas, perguruan tinggi) tidak mencukupi kuota minimal namun tetap tidak diturunkan statusnya; dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Hal-hal tersebut di atas akan menjadi sangat wajar jika saja benar bahwa pucuk pimpinan dalan HMI yang dianggap representatif tadi dipilih berdasarkan banyaknya harta, trah (silsilah), atau kedekatan dengan seseorang yang berpengaruh/pemimpin sebelumnya, bukan karena ia memiliki kapabilitas sebagai seorang pemimpin versi Islam. &lt;br /&gt;Inikah maksud dari pimpinan yang representatif, anggota yang konkrit dan usaha yang positif kreatif dalam sebuah organisasi, khususnya organisasi yang berazaskan Islam dan memiliki tujuan yang mulia seperti HMI? Kita rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat anasir-anasir inti organisasi yang telah kita bedah lalu analisis di atas, dimana anasir tersebut adalah suatu syarat umum untuk eksis/diakuinya suatu organisasi secara substansial, yang ternyata memberikan kesimpulan bahwa HMI tidak memiliki dasar (azas/ideologi) yang tegas; HMI tidak memiliki tujuan yang jelas; HMI tidak memiliki pemimpin yang representatif (secara substansial Islam); HMI tidak memiliki anggota yang konkrit; dan HMI tidak memiliki usaha yang positif kreatif, maka hanya ada 2 pilihan untuk HMI ke depannya, yaitu bubarkan dan/atau bubarkan.&lt;br /&gt;Itulah dua pilihan yang mungkin sangat berat untuk “HMI-ers”, namun itulah pilihan yang terbaik. Kesadaran setiap manusia, pasti berkata bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara cita/ide (konsep; gagasan; harapan) dengan realitas yang ada dan manusia pasti akan mengikuti sesuatu yang dianggapnya sebuah kebenaran. Dengan ketidaksesuaian antara konsep/cita-cita awal berdirinya HMI dengan realitas saat ini, kita harus mengakui bahwa HMI bukanlah sebuah kebenaran sehingga layak untuk dibubarkan, terlebih lagi dengan tidak adanya minimal lima anasir inti dalam sebuah organisasi di atas.&lt;br /&gt;Karena yang tersedia hanya dua pilihan tersebut, maka untuk kebaikan HMI dan Indonesia nantinya mari kita bersama-sama BUBARKAN HMI! Kita bubarkan (dekonstruksi) HMI yang majazi, yaitu HMI yang tidak memiliki dasar (azas; ideologi) yang tegas; HMI yang tidak memiliki tujuan yang jelas; HMI yang tidak memiliki pemimpin yang representatif (secara substansial Islam); HMI yang tidak memiliki anggota yang konkrit; HMI yang tidak memiliki usaha yang positif kreatif, HMI yang tidak berkontribusi untuk masyarakat; dan HMI yang tidak membela kaum mustadz’afin, kemudian kita bangun kembali (rekonstruksi) HMI yang sebenar-benarnya HMI, yaitu HMI yang hakiki.&lt;br /&gt;Langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mereposisi pemahaman Islam sebagai azas dan ideologi HMI, yaitu dari pemahaman Islam sebagai perangkat nilai yang strategis menjadi pemahaman Islam sebagai kerangka ideologi yang dijadikan sumber inspirasi, motivasi sampai kepada pembentuk kerangka gerak. Dimana dengan pemahaman ini, aktivitas organisasi tidak akan banyak terpengaruh oleh berbagai dinamika perubahan realitas sosial yang ada atau pun struktur kekuasaan. Kalaupun ada tekanan dari hal-hal tersebut yang memberikan implikasi negatif terkait eksistensinya sebagai organisasi Islam, maka ia akan memperlihatkan kecenderungan melawan demi mempertahankan Islam sebagai ideologinya. Karena seharusnya seperti inilah pemahaman Islam sebagai ideologi yang dianut HMI, Islam yang sebenarnya Islam.&lt;br /&gt;Kita harus memiliki suatu bentuk kesadaran versi ahli psikologi Mandler (1984), “Kesadaran berfokus pada kesenangan baru atau satu kondisi ‘di luar kebiasaan’, dimana tidak seimbangnya harapan dan realitas” dan Sartre pernah mengatakan, kita harus melakukan pasifitas aktif. Kita harus aktif di tengah cetakan pasif yang ada ini. Sehingga kita dapat membangun kembali egalitarian perkaderan dan mengembalikan konsepsi perkaderan ke dasar awal kelahirannya, yaitu perkaderan dengan sosok dan profil yang profetik (kenabian), ummi sebagaimana yang diamanatkan oleh landasan teologis organisasi ini. Perkaderan yang siap mencetak kader-kader basis yang mampu menjawab setiap kebutuhan marginalisasi masyarakat.&lt;br /&gt;Jika teori siklus peradaban mengatakan bahwa peradaban itu lahir, tumbuh, berkembang, mengalami kejayaan, mundur lalu mati (hancur), maka inilah saatnya bagi HMI yang majazi untuk hancur. Dan bagi siapa saja yang merasa tergugah untuk membubarkan HMI yang majazi, mulai dari sekarang bergeraklah untuk melakukan perubahan itu. Namun jangan sampai wacana perubahan lagi-lagi hanya menjadi diskursus semata, terutama dalam wilayah internal organisasi, karena Karl Marx pun sangat membenci orang yang hanya berdiskusi/membicarakan tentang hakikat sesuatu tetapi lupa/tidak melakukan perubahan. Berikanlah “konkritisasi” terhadap wacana tersebut lalu sebarluaskan ke semua pihak, sehingga sebab-sebab untuk hancurnya HMI yang majazi menjadi lengkap dan terciptalah HMI yang hakiki demi “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahuwata’ala”. Amin. Yakin Usaha Sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;−Bersyukur dan Ikhlas−&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-7768540932955735447?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/7768540932955735447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=7768540932955735447&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/7768540932955735447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/7768540932955735447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2009/02/refleksi-62-tahun-bubarkan-hmi.html' title='REFLEKSI 62 TAHUN: BUBARKAN HMI!'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-2916805351532816367</id><published>2008-09-15T13:27:00.001+07:00</published><updated>2008-09-15T13:31:39.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sains Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><title type='text'>Sains Islam (1) : Keteraturan Alam Semesta</title><content type='html'>SAINS ISLAM : KETERATURAN ALAM SEMESTA&lt;br /&gt;“Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan&lt;br /&gt;yang ada di antaranya dalam waktu enam hari”&lt;br /&gt;(Q.S.25 : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Wr. Wb.,&lt;br /&gt;Alam semesta, seperti telah kita ketahui bersama, berasal dari satu masa yang kemudian berdiferensiasi menjadi benda-benda langit. Benda-benda langit itu berbeda-beda sifat dan ukurannya; yang mengeluarkan sinar sendiri disebut bintang, sedang yang tidak mengeluarkan sinar sendiri disebut bulan. Ada lagi batu-batu kecil yang melayang di angkasa, yang kadang-kadang jatuh ke bumi, disebut meteorit. Sehingga yang termasuk bintang adalah matahari dan bintang-bintang lainnya; sedangkan yang termasuk planet adalah bumi, bulan, mars, dan seterusnya. Bintang dan planet tak terhitung banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Benda-benda langit itu membentuk suatu kelompok, seperti gugus Bimasakti, sistem matahari kita dan sebagainya. Jumlah gugus itu pun tak terhitung banyaknya. Kemudian benda-benda langit itu, baik kelompok maupun sendiri-sendiri, bergerak secara teratur, meskipun gerakannya macam-macam. Bulan mengelilingi bumi dalam waktu 29/30 hari, dan bumi sambil dikelilingi bulan juga mengelilingi matahari dalam waktu 365/366 hari. Di samping itu bumi berputar sekitar porosnya (rotasi) dengan waktu putaran 24 jam. Selanjutnya matahari, yang menjadi pusat sistem tata surya kita, yang dahulunya disangka diam, ternyata bergerak juga sedikit dari utara ke selatan bolak-balik.&lt;br /&gt;Telah disebutkan di atas bahwa gerakan-gerakan benda-benda langit itu, baik sendiri-sendiri maupun kelompok, berjalan sangat teratur, arahnya tetap dan kecepatannya pun tetap. “Tidak mungkin bagi matahari mendapatkan bulan (bertabrakan) dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (Q.S. 36 : 40).&lt;br /&gt;Keteraturan tentunya karena ada hukum, yaitu hukum Tuhan yang berlaku bagi alam atau sunatullah; dan karena adanya keteraturan itulah maka manusia dapat memetik manfaatnya. “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan bathin” (Q.S. 31 : 20).&lt;br /&gt;Bumi mengelilingi matahari dalam waktu satu tahun (365/366 hari), sedangkan matahari bergerak sedikit dari utara ke selatan bolak-balik. Akibat kedua gerakan itu maka terjadilah 4 musim di sebelah utara dan sebelah selatan daerah khatulistiwa, serta musim hujan dan kemarau di daerah khatilistiwa. Bagaimana bila tidak ada kedua gerakan itu? Tentu tak ada pergantian musim! Artinya yang kebanjiran tetap kebanjiran; yang kemarau makin kering; yang dingin mati beku; dan yang panas makin kering. Di samping itu poros bumi miring 23 derajat, sehingga akibatnya setahun sekali kutub utara dan kutub selatan mengalami periode dekat dengan matahari, sehingga sebagian saljunya mencair. Bila tidak demikian, maka kutub utara dan kutub selatan akan terus-menerus jauh dari matahari, sehingga akan terjadi timbunan salju yang makin lama makin menggunung, sedang di daerah khatulistiwa air laut akan makin susut, kadar garamnya makin tinggi, dan pengaruhnya terhadap tata kehidupan bisa kita bayangkan.&lt;br /&gt;Kemudian bumi berputar pada porosnya dengan waktu putaran 24 jam, maka terjadilah siang dan malam. Bila bumi tak berputar, maka belahan bumi yang gelap akan tetap gelap, dingin dan membeku; sedangkan belahan bumi yang terang akan akan tetap terang, kepanasan dan kering. Jangankan demikian, kalau waktu rotasi bumi lebih lambat, yaitu kalau siang dan malam diperpanjang waktunya dari yang sekarang, tentu akan sangat berpengaruh terhadap tata kehidupan planet kita ini. Sebaliknya bila bumi berputar lebih cepat, maka benda-benda yang ada di permukaan bumi ini akan terpelanting. “Dan Allah menentukan ukuran malam dan siang” (Q.S. 73 : 20).&lt;br /&gt;Bagaimana bila bumi berputar atau mengelilingi matahari dengan kecepatan yang tidak teratur, atau kadang-kadang berhenti walaupun sesaat? Tentu makhluk hidup yang ada di muka bumi ini akan dihadapkan pada suatu ketidakteraturan, akan dihadapkan pada situasi yang tidak menentu, akan dihadapkan pada perubahan-perubahan yang ekstrim. Penyesuaian diri (adaptasi) terhadap keadaan yang semacam itu tidaklah mungkin, berarti hidup juga tidak mungkin. “Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yuang benar. Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan” (Q.S. 39 : 5).&lt;br /&gt;Jarak rata-rata matahari dengan bumi adalah 149.450.000 km, sedang panas permukaan matahari adalah 6.000 derajat Celcius. Bila jaraknya lebih jauh dari yang sekarang, maka bumi akan terlalu dingin, apalagi di waktu malam. Sebaliknya bila jaraknya lebih dekat dari sekarang, maka bumi akan terlalu panas; mungkin hanya bangsa kuman yang bisa hidup. Jadi jarak bumi dengan matahari itu diatur sedemikian rupa sehingga cocok untuk kehidupan manusia dan makhluk lainnya.&lt;br /&gt;Bulan mengitari bumi dalam waktu 29/30 hari, dan mengakibatkan pasang dan surut permukaan air laut. Dengan adanya pasang dan surut air laut tersebut, maka hewan-hewan kecil, yang mengubur diri di dalam pasir di tepi pantai, mempunyai kesempatan untuk mendapatkan makanan. Di samping itu, beberapa jenis ikan bertelur di pasir pantai pada waktu bulan purnama, yaitu pada saat pasang yang paling tinggi. Ketika air surut telurnya tertinggal dalam pasir. Pasang besok paginya tidak mencapai tempat telur terkubur, karena pasang menurun. Demikianlah selama kira-kira 2 minggu telur-telur ikan itu terkubur dalam pasir yang lembab dan hangat, yang sangat baik untuk pertumbuhan embryo. Dua minggu kemudian pasang naik lagi mencapai tempat tersebut pada saat telur telah siap untuk menetas.&lt;br /&gt;Jarak bumi dan bulan adalah 384.403 km. Bila jaraknya lebih dekat lagi, maka pasangnya akan terlalu tinggi dan akan menimbulkan banjir serta erosi tak dapat dihindarkan. Demikian itu adalah keteraturan dalam jarak dan gerak serta kecepatan bumi, bulan dan matahari.&lt;br /&gt;Di samping itu matahari, bumi dan bulan mempunyai ukuran massa yang cocok (teratur) satu sama lain. Daya tarik-menariknya sedemikian rupa sehingga satu sama lain tidak bertabrakan. Ukuran panas matahari pun sesuai dengan jaraknya terhadap bumi, sehingga tidak sampai membakar. Begitulah segalanya teratur, cocok antara massa, jarak dan gerak. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Q.S. 54 : 49).&lt;br /&gt;Keteraturan itu bukan hanya menyangkut bumi, matahari dan bulan saja, tetapi menyangkut semua benda-benda langit, baik bintang maupun planet, baik gugus maupun sendiri-sendiri. Benda-benda langit dan gugus benda langit itu tak terhitung banyaknya, maka keteraturan yang terdapat padanya juga tak terhitung banyaknya. Ditambah lagi dengan keteraturan pada organisme yang hidup di bumi ini, bukan lagi tak terhitung banyaknya, tapi tak terbayangkan banyaknya.&lt;br /&gt;Mungkinkah keteraturan yang tak terbayangkan banyaknya itu terjadi karena kebetulan? Mari kita lihat, untuk mendapatkan gambaran bagaimana sulitnya mendapatkan keteraturan secara kebetulan, cobalah kita menghitungnya dengan teori peluang. Umpamakan kita mempunyai seratus butir kelereng di dalam sebuah kotak lalu kita beri nomor 1 sampai 100. Sesudah kita mengambil sebutir kita kembalikan lagi ke dalam kotak dan kita kocok, kemudian baru mengambilnya lagi. Supaya terjadi satu deret keteraturan dari satu sampai seratus, maka kita harus mampu mengambil nomor-nomor itu secara berurutan dari No. 1, 2, 3, 4, 5,  . . .  100.&lt;br /&gt;Peluang untuk mendapatkan No. 1 pada pengambilan pertama adalah 1/100, peluang untuk mendapatkan No. 2 pada pengambilan yang kedua adalah 1/10.000, peluang untuk mendapatkan No. 3 pada pengambilan yang ketiga adalah 1/1.000.000. Berapakah peluang untuk mendapatkan No. 100 pada pengambilan yang keseratus? Tak terbayangkan kecilnya! Itu baru dengan 100 nomor.&lt;br /&gt;Berapakah keteraturan yang terdapat dalam alam semesta ini? Tak terhitung! Maka menurut dugaan para ahli, bila alam semesta ini terjadi secara kebetulan, akan terlalu lama waktu yang diperlukan, tidak akan selesai tersusun dalam waktu 5-10 milyar tahun sebagaimana umur alam semesta yang diperkirakan sekarang.&lt;br /&gt;Bila dalam waktu yang terukur muncul keteraturan-keteraturan yang jumlahnya tidak terukur, maka peluang untuk munculnya keteraturan itu secara kebetulan adalah nol! Dan peluang untuk tidak terjadi secara kebetulan (disengaja) adalah satu! Peluang yang sama dengan nol disebut mustahil, sedang peluang yang sama dengan satu disebut wajib, dan peluang yang terletak antara nol dan satu disebut mungkin.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, maka wajib adanya Tuhan Maha Pencipta dan Maha Pengatur. “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya dengan main-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi mereka tidak mengetahuinya.”(Q.S. 44 : 38-39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bish shawab&lt;br /&gt;Wabillahit taufiq wal hidayah&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-2916805351532816367?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/2916805351532816367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=2916805351532816367&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/2916805351532816367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/2916805351532816367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/09/sains-islam-1-keteraturan-alam-semesta.html' title='Sains Islam (1) : Keteraturan Alam Semesta'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-3182568221037278103</id><published>2008-06-18T15:10:00.001+07:00</published><updated>2008-06-18T15:12:13.197+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika dan Filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>DUAL I-NESS</title><content type='html'>Beberapa dari kita mungkin masih ingat akan sosok seorang filsuf era modern dari Jerman, Friedrich Nietzche, beberapa dari kita mungkin sudah lupa atau bahkan tidak pernah tahu sama sekali. Ya! Nietzche, seorang filsuf tenar yang menggemparkan dunia Barat maupun Timur dengan perkataannya bahwa, “Tuhan telah mati!”&lt;br /&gt;Kami tidak begitu tahu banyak tentang dia, riwayat hidupnya, atau dasar dia berargumen tentang hal itu. Yang jelas (mungkin) kita sama-sama tahu bahwa dia adalah seorang manusia biasa layaknya kita semua. Yang kami tahu hanyalah sekelumit cerita tentang dirinya di masa tuanya, atau mungkin lebih tepatnya di hari-hari menjelang akhir riwayat hidupnya…&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Suatu hari Nietzche berjalan menyusuri suatu jalan di mana ia melihat seekor kuda yang berusaha keras untuk ke luar dari sebuah parit, bernafas terengah-engah di bawah muatan berat dari sebuah kereta yang terjungkir di atasnya. Nietzche mengamati si pemilik sedang berusaha memaksa kuda itu agar ke luar dari himpitan sehingga ia tidak akan kehilangan muatan keretanya. Binatang itu sudah sedemikian terjerembab untuk bergerak, tetapi si pemilik yang nampaknya terlalu sayang pada muatan kereta daripada keselamatan kudanya, mulai mengayunkan cemeti di atas punggung kuda secara sangat bengis. Kuda itu mulai bergerak sedikit keluar dari parit tersebut, tetapi ia gagal dan terjatuh kembali ke dalam parit, salah satu kakinya patah dan kelihatan sangat payah.&lt;br /&gt;Marah menyaksikan pandangan yang mengerikan akibat brutalitas manusia tersebut, filsuf tua itu memberitahukan si petani agar menghentikan cambukannya pada kuda yang malang itu. Ia menasihati agar pertama-tama muatan itu diambil terlebih dahulu, baru kemudian kuda itu ditolong ke luar dari parit. Tetapi si pemilik tidak menggubris kata-kata Nietzche. Karena itu ia terus menghujani cambukan dan mendorong kuda itu. Hal itu membuat marah sang silsuf sedemikan rupa sehingga ia melompat dan memegang leher baju si petani sambil berkata, “Saya tidak akan membiarkanmu mencambuk binatang malang ini begitu kejam!” Akan tetapi petani itu melepaskan diri dan memukul jatuh Nietzche dan memukulnya lagi sangat keras, sehingga ia meninggal beberapa hari kemudian.&lt;br /&gt;Nietzche, seorang filsuf yang di masa mudanya mencintai kekuasaan dan kekuatan serta memujanya, sekarang berdiri melawan kekuatan itu untuk menyelamatkan makhluk yang lemah dan terinjak-injak; akhirnya ia mengorbankan dirinya untuk suatu cita-cita kemanusiaan…”&lt;br /&gt;Jika kita mendengar cerita ini, pasti kita akan bereaksi dengan suatu perasaan yang kontradiktif. Kita menyadari bahwa kontradiksi dalam perasaan kita terhadap peristiwa itu disebabkan karena kita memiliki dua kepribadian dalam ke-aku-an (dual I-ness). Kepribadian pertama, kita menghargai keagungan spiritual Nietzche, sentimen moral dan nuraninya yang responsif. Ia akan ikut menyertai tindak pengorbanan itu dalam menyelamatkan suatu makhluk yang malang dari tirani manusia. Ini adalah kepribadian manusiawi kita yang terlalu sensitif untuk mentolerir suatu pemandangan yang kejam dan mengerikan. Kepribadian kedua, kita akan bereaksi terhadap kejadian di atas dengan cara yang lebih praktis. Ia akan mencemooh pengorbanan Nietzche atas dirinya demi seekor binatang angkutan. Ia akan melihat seluruh peristiwa itu sebagai lelucon dan absurd. “Seorang jenius besar dalam sejarah mengorbankan hidupnya yang sangat bermanfaat demi menyelamatkan seekor kuda? Alangkah pandirnya. Betapa lucu dan tak masuk akal!” Demikianlah ia akan melakukan rasionalisasi.&lt;br /&gt;Respon manakah yang anda pilih dan mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-3182568221037278103?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.hmistmatrisakti.blogspot.com' title='DUAL I-NESS'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/3182568221037278103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=3182568221037278103&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/3182568221037278103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/3182568221037278103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/06/dual-i-ness.html' title='DUAL I-NESS'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-801701957271896589</id><published>2008-06-11T14:46:00.003+07:00</published><updated>2008-06-11T14:53:28.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perubahan Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>“6-TIK” SYNDROM</title><content type='html'>Tampaknya begitu banyak masalah yang sedang melanda bangsa ini, setidaknya hal inilah yang kami lihat. Mulai dari demoralisasi, tingginya angka kejahatan, angka bunuh diri, melambungnya harga-harga kebutuhan pokok yang (katanya) dipicu oleh naiknya harga BBM, penderita HIV/AIDS yang semakin meningkat, pendidikan yang tak kunjung berkualitas, sistem perpolitikan yang selalu saja menghalalkan segala cara (mungkin karena memang definisi umumnya begiitu), dan masih banyak lagi permasalahan bangsa dan negara ini.&lt;br /&gt;Padahal kalau kita kaji secara agama, katanya sih Allah menciptakan masalah sekaligus dengan solusinya, namun kenapa ya kok tak kunjung ada solusi untuk masalah yang melanda bangsa dan negara kita ini? Apakah karena kita belum secara maksimal mencarinya atau karena kita memang tak pernah berusaha mencari solusinya, atau mungkin bangsa dan negara kita ini dikutuk olehNya? Wallahu`alam bish shawab...&lt;br /&gt;Sebagian dari kita mungkin menjawabnya bahwa akar masalah semua ini adalah dekadensi moral. Sebagian lagi mungkin menjawab bahwa kondisi perekonomian yang buruklah akar masalahnya. Sementara yang lain akan menjawab bahwa ummat ini bodoh dan terus dibodohi. Atau mungkin juga ada yang menjawab tidak tahu, sekedar mencari selamat.&lt;br /&gt;Hmm..banyaknya jawaban di atas  menunjukkan bahwa kita, sekarang ini, dihadapkan pada peta persoalan ummat yang begitu kompleks laiknya lingkaran setan, tak berujung dan tak berpangkal. Padahal secara definitif, pernyataan akar masalah menghendaki adanya karakter jawaban yang bersifat tunggal dan menjadi sebab pertama/utama dari segala persoalan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, bila persoalan-persoalan yang kita hadapi sudah bersifat sperti lingkaran setan, maka yakinlah bahwa persoalan yang kita hadapi bukanlah persoalan yang sederhana. Persoalan ini tidak lagi parsial, melainkan sistemik. Disebut sistemik karena persoalan ini kompleks, sudah menyentuh seluruh aspek persoalan mulai dari inputnya, prosesnya, hingga outputnya. Inputnya bermasalah, prosesnya bermasalah, dan outputnya pun bermasalah.&lt;br /&gt;Jika suatu persoalan sudah sedemikian rupa, maka yakinlah juga bahwa persoalan yang tengah kita hadapi telah berubah menjadi krisis. Bukan hanya krisis satu atau dimensi (seperti krisis ekonomi pada tahun 1998 atau krisis energi saat ini yang dikatakan oleh pemerintah), tetapi sudah menjelma menjadi krisis multidimensi. Krisis yang meliputi tatanan ekonomi, perilaku politik, budaya, kehidupan sosial, sikap beragama, dan pendidikan kita.&lt;br /&gt;Ketidakpedulian kita, kemasabodohan kita, bahkan keputusasaan kita selama ini telah mengubah penyikapan kita terhadap krisis multidimensi ini menjadi trapped in comfort zone syndrom yang menghinggapi dan menjejali kepala kita. Maka jadilah sidrom 6-tik merangsek segala sendi kehidupan kita: tatanan ekonominya kapitalistik, perilaku politiknya opportunistik, budayanya hedonistik, kehidupan sosialnya individualistik, sikap beragamanya sinkretistik, dan sistem pendidikannya materialistik.&lt;br /&gt;Kini jelas sudah, ternyata kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ummat kini sedang sakit, akibat begitu banya persoalan yang menggerogoti tubuhnya. Untuk dapat menyembuhkannya, kita harus dapat menemukan inti (akar) penyakitnya. Dan untuk menemukan akar masalah ini, kita harus berani memutus lingkaran setan pada titik yang tepat. Kalau kata Hizbut Tahrir sih kita harus kembali menempatkan syari’ah sebagai way of life kita.&lt;br /&gt;Dalam kalimat lain, Muhammad Assad Leopold Weiss, seorang mualaf dari Jerman menyatakan dengan sangat jitu apa sesungguhnya yang membuat ummat Islam sakit dan terpuruk seperti sekarang ini dan apa sesungguhnya yang membuat orang non-muslim Barat maju secara materi seperti sekarang ini. Menurutnya, keduanya terjadi karena sebab yang sama, yaitu karena sama-sama meninggalkan agama alias sekuler. Lalu, menjadikannya sebagai way of life (sekulerisme).&lt;br /&gt;Jadi, way of life sekulerisme inilah yang membawa darah kotor kapitalistik pada tatanan ekonominya, racun opportunistik pada perilaku politiknya, obat bius hedonistik pada budayanya, kuman individualistik pada kehidupan sosialnya, borok sinkretistik pada sikap beragamanya, dan hawa materialistik pada sistem pendidikannya. Na’udzubillahi min dzalik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bish shawab.&lt;br /&gt;Wabillahi taufiq wal hidayah.&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-801701957271896589?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/801701957271896589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=801701957271896589&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/801701957271896589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/801701957271896589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/06/6-tik-syndrom-tampaknya-begitu-banyak.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;“6-TIK” SYNDROM&lt;/span&gt;'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-5175466972690989443</id><published>2008-05-22T12:22:00.000+07:00</published><updated>2008-05-22T12:24:48.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Motivasi: Hancurkan "Self Syndrom"</title><content type='html'>Sebuah Refleksi Perkaderan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Mei 2008 adalah hari yang sangat monumental bagi bangsa dan negara Indonesia, karena pada hari dan tanggal itulah tepatnya diperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Memang tak terasa sudah 100 tahun bangsa dan negara Indonesia ini melalui tahun demi tahun “bangkitnya” negara ini dari keterpurukan. Walaupun memang tetap belum terasa ada suatu “kebangkitan” yang signifikan, mungkin yang paling terasa yaitu sewaktu bergulirnya Reformasi di tahun 1998, namun tetap saja bangsa dan negara Indonesia masih berada dalam “keterpurukan” dan kolonialisme.&lt;br /&gt;Berikut ini ada sebuah cerita yang sangat menarik dan inspiratif dari Panglima Islam, Thariq bin Ziyad, yang mungkin bisa membantu masing-masing dari kita untuk lebih memaknai peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan agar tidak hanya berkata, “Indonesia, Bisa!!!”, tetapi langsung “BANGKIT” dengan makna dan maksud yang sesungguhnya...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;....Ombak besar bergulung seirama dengan hembusan angin laut menyergap secara bergantian semenanjung pantai tenggara Spanyol. Deburnya terdengar begitu keras saat menghantam karang-karang terjal dan mencipratkan buih ke udara. Tak terdengar suara lain, kecuali suara alam pantai dengan berbagai harmoninya. Kesunyian seolah menelan pantai itu selama bertahun-tahun. Tetapi, tidak di suatu hari pada tahun 711 M. Kesunyian itu pecah oleh berderaknya serombongan armada tempur yang telah melintasi 13 mil laut untuk menyeberangi Selat Andalusia. Armada berkekuatan 700 prajurit itu merapat. Sebuah komando menyulut, semangat pun keluar dari sang Panglima.&lt;br /&gt;“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar daripada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuhakan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!”&lt;br /&gt;Tan[a keraguan sedikit pun, panglima itu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal-kapal yang telah membawa mereka. Banyak orang mungkin bertanya, “Bukankah kapal-kapal itu adalah aset? Bukankah aset perang justru seharusnya dijaga?” Tidak! Itulah prinsip sang Panglima. Secara zhahir, memang kapal-kapal itu habis terbakar, namun pada hakikatnya perintah ini juga telah membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut serta menyisakan dua pilihan, yang keduanya mulia. Menangkan pertempuran atau mati syahid. Di sinilah terbentuk kesamaan visi dan misi antara pemimpin dan bawahan dalam membangun tim yang kompak dan padu. Langkah ini telah membuahkan kemenangan. Sebuah kemenangan yang mengantarkan umat Islam memasuki babak baru, dakwah di bumi Andalusia.&lt;br /&gt;Panglima itu adalah Thariq bin Ziyad, seorang pahlawan muslim pembebas Andalusia yang namanya diabadikan untuk menyebut bukit karang setinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara Spanyol. Jabal Thariq, begitulah orang Arab menamai bukit itu. Lidah Eropa menyebutnya Gibraltar.&lt;br /&gt;Kemenangan yang diraihnya termasuk historical moment. Betapa tidak, 7.000 prajurit muslim harus berhadapan dengan jumlah personel musuh yang jauh lebih besar, 25.000 prajurit Visigoth di bawah perintah Raja Roderick. Sebuah kekuatan perang yang sangat tidak seimbang, mengingatkan kita pada fenomena Perang Badar di mana pasukan musuh berjumlah lebih dari tiga kali lipat pasukan muslim.&lt;br /&gt;Pasukan muslim dihadapkan dua pilihan mulia dalam berjihad, yang keduanya berbalas pahala besar, yakni menang atau mati syahid. Ketidakberimbangan kekuatan pasukan saat itu berpotensi untuk membuat kecut nyali sebagian pasukan yang dapat meracuni kekuatan tim. Ciutnya nyali dan lemahnya semangat dapat membuat mereka berpikir untuk kembali ke pantai, mengayuh kapal meninggalkan lahan ibadah. Ini harus dicegah! Hangusnya kapal menjadi puing-puing yang teronggok membuat kemungkinan ini ikut hangus musnah. Seperti yang dikatakannya, “Lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari?” Maju menerobos musuh, berisiko terbunuh. Mundur ke pantai, menerobos ombak laut berisiko sama. Namun, pilihan pertama tentu jauh lebih ksatria dan mendatangkan pahala. Ada surga di sana. Jika sama risikonya, tak ada alasan sedikit pun untuk memilih yang kedua. Api ruh jihad secara cepat merembet dan mengobarkan semangat 7.000 prajurit muslim. Dalam gemuruh takbir mereka maju menegakkan kalimat tahlil di bumi Andalusia.&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, mereka berhasil menundukkan Spanyol dan terus bergerak maju sampai ke perbatasan Perancis di Tours. Inilah jalur masuk Islam di Eropa Barat....&lt;br /&gt;Saudaraku, tentu ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah inspiratif ini. Terkait dengan kebangkitan diri–belajar dari pengalaman Thariq–memang tak ada jalan lain untuk dapat membangkitkan diri, kecuali mengikuti jejak Panglima Islam, Thariq bin Ziyad, ketika membakar seluruh kapal untuk memotivasi 7.000 prajuritnya guna membebaskan bumi Andalusia pada tahun 711 M, sebagaimana dikisahkan di atas.&lt;br /&gt;Ciptakanlah “kondisi yang memotivasi untuk bangkit” yakni dengan suatu komando atau kebijakan strategis menghilangkan pilihan mundur dengan mengorbankan “aset”. Satukanlah visi dan cara pandang kita semua. Maksudnya, mulai saat ini visi dan cara pandang kita adalah mewujudkan diri yang dapat berbakti demi kebangkitan bangsa, negara, dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bish shawab.&lt;br /&gt;Wabillahi tafiq wal hidayah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-5175466972690989443?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.hmistmatrisakti.blogspot.com' title='Motivasi: Hancurkan &quot;Self Syndrom&quot;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/5175466972690989443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=5175466972690989443&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/5175466972690989443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/5175466972690989443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/05/motivasi-hancurkan-self-syndrom.html' title='Motivasi: Hancurkan &quot;Self Syndrom&quot;'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-4831872401843298314</id><published>2008-05-21T11:39:00.003+07:00</published><updated>2008-05-21T11:43:50.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Sinergisitas: Kongres Anggota Tubuh</title><content type='html'>Kisah bermula di sebuah Kongres Anggota Tubuh Manusia. Pak Jantung memimpin sesi sidang “Pemberian Penghargaan Pada Anggota Tubuh Manusia Terpenting Tahun Ini”. Dalam pidato pengantarnya, Pak Jantung berkata, “Saudara-saudaraku sesama anggota tubuh, sebagaimana kita tahu tuan kita sangat menginginkan kinerja kesehatannya meningkat tahun ini. Peningkatan ini hanya mungkin kalau kita semua memperbaiki kinerja masing-masing. Nah, untuk memicu dan memacu peningkatan kinerja itu, tuan kita berkenan memberikan penghargaan kepada anggota tubuh terpenting. Untuk itu, kita harus menentukan siapa diantara kita yang layak untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sidang seketika hening. Semua bingung karena sulit untuk menentukannya. Mas Mata merasa dirinya paling penting, karena tanpa dirinya tuannya pasti akan kelimpungan ketikan berjalan. Jeng Bibir juga merasakan hal yang sama karena dia adalah juru bicara tuannya. “Coba kalau saya mogok kerja, pasti tuan dikira bisu!” Pak Jantung tak mau kalah, “Kalau saya mau mogok kerja 1 detik saja, dunia pasti kiamat Bung!” Akhirnya, ruangan Kongres pun gaduh. Gaduh sana dan gaduh sini.&lt;br /&gt; Sesaat kemudian, Pak Jantung mengetuk meja sidang, “Diam semua. Setelah saya pikirkan masak-masak, sulit bagi kita untuk mencari siapa yang paling penting. Bagaimana kalau sebaiknya, kita cari saja siapa yang paling tidak penting.” Pak Jantung berbicara semangat sekali sambil melirik salah satu peserta yang pendiam, yakni Bang Lubang Kentut. Upsss. Tak dinyana, semua koor, “Setujuuuu!”&lt;br /&gt; Akhirnya secara aklamasi, pilihan jatuh bulat-bulat kepada–siapa lagi kalau bukan–Bang Lubang Kentut! Serta merta Bang Lubang Kentut protes mengajukan PK, Peninjauan Kembali. Tapi sia-sia saja, protes Bang Lubang Kentut tenggelam dalam keriuhan sidang. Dan, tak lama kemudian sidang pun usai. Bang Lubang Kentut terdiam, “Apa yang aku lakukan untuk tuanku, ternyata tak berharga sama sekali,” batinnya. “Baiklah. Akan aku tunjukkan bahwa apa yang mereka putuskan itu salah besar!”&lt;br /&gt; Maka, mulailah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sang tuan pun demam. Kadang panas kadang dingin. Satu per satu anggota tubuh pun unjuk sakit. Pak Jantung mengeluh, detak dirinya lain dari biasanya. Yang biasanya berirama pop, kok mendadak berubah ada cengkok dangdutnya. Jeng Bibir meradang, setiap kali bertugas pasti orang di sekitar tuannya ramai-ramai menutup hidungnya masing-masing. “Ada bau tak sedap,” kata mereka. Mas Mata juga begitu. “Aku sering kelilipan dan berkunang-kunang, padahal tak ada kunang-kunang yang hinggap pada diriku. Kenapa ya?” Lalu, semua berkumpul. “Ya...ya...ya...kami juga!” Sungguh tidak seperti biasanya.&lt;br /&gt; Mereka pun menunjuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus ini. Setelah mendapat petunjuk dari sejumlah saksi, tim pun menangkap Bang Lubang Kentut sebagai satu-satunya tersangka. Akhirnya, di hadapan Majelis Hakim Bang Lubang Kentut pun mengakui bahwa ini semua terjadi karena dirinya melakukan mogok kerja. Jika tuannya ingin buang angin, ia tak merespons. Kalau tuannya ingin BAB, ia cuek saja. Pokoknya ibarat keran air, dirinya mengunci rapat-rapat keran itu. Mbah Kumis, Ketua Majelis Hakim yang berwibawa pun bertanya, “Jujurlah padaku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?”&lt;br /&gt; Bang Lubang Kentut terbata-bata berkata, “Saya ingin menyadarkan semua pihak, meskipun posisi saya dibawah, tak elok dipandang, bukan berarti saya lantas tidak penting. Semua anggota tubuh sama pentingnya. Sudah sepantasnya kita saling sinergi sesuai dengan core-nya masing-masing.”&lt;br /&gt; Hikmah berharga untuk kita adalah betapa pentingnya sebuah sinergisitas peran. Sekecil apa pun peran yang dimainkan tetaplah ia punya arti. Ibarat sekrup kecil dalam sebuah mesin besar. Kecil namun tetap penting. Tetaplah berperan dalam perkaderan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Cerita ini diambil dari buku “Be The Best, Not ‘Be asa’” karangan M. Karebet Widjajakusuma hal.119.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-4831872401843298314?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.hmistmatrisakti.blogspot.com' title='Sinergisitas: Kongres Anggota Tubuh'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/4831872401843298314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=4831872401843298314&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/4831872401843298314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/4831872401843298314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/05/sinergisitas-kongres-anggota-tubuh.html' title='Sinergisitas: Kongres Anggota Tubuh'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-6388372907929977818</id><published>2008-05-16T15:13:00.001+07:00</published><updated>2008-05-16T15:18:27.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkaderan'/><title type='text'>Refleksi Perkaderan via Naruto</title><content type='html'>Naruto Mei 7, 2008&lt;br /&gt;Posted by anditoaja in Pendidikan. &lt;br /&gt;trackback &lt;br /&gt;sumber: anditoaja.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sebuah refleksi perkaderan)&lt;br /&gt;Naruto Uzumaki pernah mencoba jalan sendiri. Ia tidak mau diatur oleh siapa pun. Tapi ilmu tanpa guru adalah percuma. Toh tetap saja ia harus patuh pada aturan sekolah ninjanya. Karena menjadi jonin tidak bisa instan, melainkan harus melalui proses.&lt;br /&gt;Naruto adalah siluman rubah berekor sembilan yang belajar di sekolah ninja. Ia hobi makan ramen (mie). Ia ngebet dikenal dan diakui, makanya ia ngotot menjadi hokage, yaitu strata shinobi (ronin) paling tinggi yang diakui keberadaannya oleh semua kalangan. Salah satu jurus yang dipelajari Naruto adalah Bunshin no jutsun, jurus kloning, kepada Iruka, gurunya di sekolah ninja.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah ninja, semua murid belum bisa disebut ninja. Baru calon. Untuk menjadi Genin (ninja tingkat bawah) saja demikian sulit, apalagi meraih posisi Jonin (ninja tingkat atas). Terbukti, beberapa kali Naruto mengikuti ujian jurus, ia tidak bisa mengklon dirinya dengan sempurna. Kadang yang muncul adalah seorang putri. Kadang fisik Naruto, tapi duplikatnya ini muncul dalam kondisi teler alias tidak siap tempur. Tidak heran, di kelas itu, Naruto meraih posisi paling buncit. Tapi tetap saja kepribadiannya yang sok tahu, banyak omong dan lagak, menyepelekan orang lain.&lt;br /&gt;Saat musim ujian tiba, ia disatukan dalam sebuah tim bersama Sasuke dan Sakura. Sasuke adalah murid terpintar dalam kelas. Orangnya cool dan jaim. Sakura adalah murid sentimentil yang naksir berat kepada Sasuke. Dan Naruto naksir berat kepada Sakura. Ketiga jenis manusia yang sangat berbeda kepribadian ini disatukan dalam sebuah tim dengan tutor Kakashi Hatake.&lt;br /&gt;Ujian tim tiba. Kakashi membawa dua bekal makan siang. Sedangkan anggota tim ada tiga orang. Artinya, ada satu anggota tim yang tidak akan bisa makan. Kemudian masing-masing berebut klentengan yang dipegang Kakashi sebagai syarat memperoleh bekal makan siang. Satu persatu anggota tim kalah. Kakashi komentar sinis, tidak ada satu pun yang lulus. Dua bekal makanan diberikan kepada Sasuke dan Sakura, di depan Naruto yang terikat karena berbuat curang: ingin mencuri bekal. Kemenangan mereka dapatkan justru di luar pertempuran setelah Sasuke dan Sakura membagi makan siangnya kepada Naruto. &lt;br /&gt;Itulah ringkasan awal film animasi Naruto. Di balik kisah heroik semacam itu, banyak film menampilkan jagoan berasal dari etnis yang kalah atau terbuang, bisa juga siluman yang tidak diakui, atau golongan jin yang baik, tersimpan sebuah sistem perkaderan yang perlu dikaji lebih lanjut. Ya, sekolah ninja menyimpan banyak hal menarik tentang bagaimana nilai-nilai keninjaan tersimpan rapi dalam sistem perkaderan. Dalam artikel ini, aku ingin menafsir tentang segala simbol dalam animasi Naruto dengan dimensi organisasi perkaderan.&lt;br /&gt;Menyimpan personalitas&lt;br /&gt;Pertama, siluman rubah berekor 9. Apa yang lebih menarik perhatian kita saat mendengar kata ‘siluman rubah berekor 9’? Tentu jumlah ekornya yang berjumlah 9. Padahal biasanya kita melihat tubuh, bukan ekor, yang hanya bagian remeh dari tubuh. &lt;br /&gt;Siluman punya kaitan erat dengan simbol keliaran, uncontroled, jejadian. Sebelum Naruto nyantri di sekolah berkepribadian yang liar, tidak bisa diatur, semaunya, merasa benar sendiri, arogan, one man show, dll. Dalam bahasa lain, ia adalah sebuah individu yang belum mengorganik, belum memasuki sebuah sistem organisasi.&lt;br /&gt;Saat telah masuk ke sebuah sistem pun, perilaku personal biasanya masih tetap hadir menghiasi kerja organisasi. Dalam kelas ninja, bahkan ketika sudah masuk dalam tim, Naruto masih suka usil. Tidak heran, menimpali omongan Naruto yang asal cuap dan pengen instan jadi jawara agar eksistensinya diakui, Kakashi (sang tutor) berucap, “Di dunia ini, orang yang paling rendah kemampuannya biasanya bicaranya paling keras.” &lt;br /&gt;Dengan demikian, siluman rubah berekor 9 adalah sebuah pencitraan animasi tentang nafsu dan kehendak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa peduli kepada yang lain. Ekor 9 yang lebih menarik perhatian kita, bukan wajah atau tubuh rubah, adalah ekspresi tentang perayaan individualitas tanpa respek terhadap masalah sosial.&lt;br /&gt;Dalam kisah itu, Naruto tidak bisa mengaktualkan kembali energi silumannya karena telah dikunci oleh Hokage dan kuncian itu semakin kuat tatkala Naruto semakin mendalami jurus-jurus ninja di sekolah. Ekspresi personal itu kemudian hilang, lebur, anihilasi. &lt;br /&gt;Dalam struktur perkaderan, anda tidak akan bisa menerima pelajaran ketika dalam diri anda masih tersimpan siluman atau keakuan. Apalagi ketika keakuan tersebut tidak mempunyai pola yang jelas. Ekor 9 adalah simbolisasi ngawurnya fokus ketika perhatian teralih pada sesuatu yang remeh.&lt;br /&gt;Menyembunyikan keberadaan&lt;br /&gt;Personalitas hanya diakui saat masih jadi kadet sekolah ninja. Setelah itu, ia harus melebur dalam sistem. Peraturan dasar ninja yang pertama adalah menyembunyikan keberadaan. &lt;br /&gt;Lihatlah film-film tentang ninja. Mereka berpakaian gelap yang rapat dan berpenutup wajah. Ninja tanpa tutup wajah biasanya adalah tokoh elite atau Hogakenya. Kegagalan seorang ninja adalah ketika ia itu narsis. Ninja yang berpakaian ngejreng (kontras, mencolok), tampil siang hari di tengah keramaian sambil teriak “Hallo, here I am!” dan memakai parfum yang tercium ribuan kilometer, pastilah bukan ninja sejati. Bisa jadi ia hanya punya motor Kawasaki Ninja.&lt;br /&gt;Mereka beraksi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Cukuplah orang lain mengetahui akibatnya saja, tanpa perlu mengenali siapa pelakunya. Itulah gerakan ninja. Cepat, tepat, efektif. Tanpa koar-koar. Apabila seorang ninja pamer diri dalam beraksi, bisa dipastikan ia bukan ninja. Mungkin hanya kumpulan gerombolan. Kita bisa lihat film era 80-an, “American Ninja” yang dibintangi Michael Dudikoff. Si jagoan neon ini hanya dikenali sebagai prajurit rendahan biasa. &lt;br /&gt;Organisasi kader sejati selalu mempunyai nafas panjang dan tidak mudah terpancing. Saat mereka melakukan pembinaan diri, mereka tidak grasa-grusu dan pamer diri ke orang-orang. Diam dan kalem saja. Mereka tidak membuat orang lain sadar akan kegiatan ini. Contoh konkretnya ini bisa terlihat dalam pembangunan sebuah gedung di daerah mana pun. Saat mereka membangun, area dibatasi oleh pagar seng yang tinggi sehingga membuat orang luar tidak bisa melihat apa yang sedang dikerjakan di dalam. Khalayak ramai baru menyadari ketika bangunan itu sudah berdiri kokoh. Ketika bangunan itu sudah terlihat, orang-orang tetap saja tidak tahu apa bahan dasar bangunan tersebut. &lt;br /&gt;Bergerak dalam tim&lt;br /&gt;Ninja juga bergerak dengan tim, tidak main sendiri. Konsolidasi dalam tempat gelap, sembunyikan diri, serang musuh di saat mereka lengah, potong sel ketika serangan gagal, dan tetap sembunyikan diri meskipun kemenangan telah diraih. Ada saatnya nanti untuk [di]muncul[kan]. Itu pun belum tentu jagoannya.&lt;br /&gt;Mereka menyadari bahwa kekurangan salah satu dari mereka akan tertutupi oleh rekan lain tanpa ada superioritas personal. Mereka taat perintah pimpinan. Saat berkumpul, mereka bisa adu wacana dengan dalil-dalil rasional. Tapi ketika beraksi, wacana terserap dalam tindakan. Inti kelulusan Naruto cs dalam ujian justru adalah karena kerjasama tim dan kerelaan berkorban, bukan karena kepiawaian personal.&lt;br /&gt;Tim yang terbentuk terbagi dalam unit-unit kecil. Sering disebut sistem sel. Sistem ini dibentuk untuk memaksimalkan target. Ketika ada gangguan atau kegagalan, sel ini bisa dipotong sehingga tidak mengganggu sel lain. &lt;br /&gt;Sistem ini dijaga oleh orang yang dianggap pimpinan atas. Dalam komik Naruto disebut sebagai Hokage. Sistem ini bisa dipimpin oleh perorangan (yang biasanya dipanggil ketua, don, fuhrer, imam), atau sekelompok orang (politbiro). Yang pasti, tanpa diketahui publik, ada sistem dalam gerakan perkaderan ini yang sengaja dibuka, dan ada pula sistem yang ditutup, hanya diketahui oleh ketua. &lt;br /&gt;Sistem terbuka hanya untuk menarik perhatian calon member baru. Orang-orang melihatnya sebagai organisasi biasa. Mungkin Cuma sekadar kelompok diskusi, arisan, pengajian, atau lembaga kursus biasa. Orang-orang yang duduk di jabatan itu pun sekadar syarat administrasi saja. Suatu saat, bila diperlukan, bisa jadi yang anggota jadi ketua, yang sekretaris menjadi manajer dan lain-lain.&lt;br /&gt;Karakter tutor&lt;br /&gt;Naruto adalah murid paling bodoh di kelas, digabung dalam satu tim dengan Sasuke (murid terpintar yang cool, jaim), dan Sakura yang sangat memuja Sasuke. Bagi sebagian orang, ini bukan tim karena disparitas kemampuan dan keilmuan yang sangat jauh. Seharusnya, tim itu beranggotakan orang-orang yang punya keahlian yang relatif sama. Bergabung dengan sesama ahli saja belum tentu klop, apalagi bila dengan orang yang berilmu paling rendah.&lt;br /&gt;Justru itulah. Ini sistem ninja. Tidak penting siapa bergabung dengan siapa. Setiap orang yang sangat mungkin punya watak saling berlawanan mesti bisa berkomunikasi satu sama lain. Masalahnya tidak berhubungan sama sekali dengan kenyamanan dan selera, melainkan fokus pada tujuan. Misi harus berhasil dan pantang gagal. Karena kegagalan hanya meninggalkan bangkai.&lt;br /&gt;Tugas mentor/tutor adalah merangkaikan seluruh perbedaan menjadi sebuah mozaik yang indah, sebuah irama merdu yang bisa bergerak bersama untuk sebuah kesuksesan misi, tanpa melepaskan individualitas seseorang. &lt;br /&gt;Tentang Kakashi, sang mentor, tidak pernah cerita detil tentang misi yang harus dilakukan. Ia baru membukanya setelah misi usai, tentang apa dan mengapanya. Tugas murid hanya menjalankan perintah.&lt;br /&gt;Namun ada hal yang sering dilupakan oleh banyak aktivis sistem sel seperti ini, bahwa jabatan mentor bukan sekadar masalah loyalitas melainkan juga ketrampilan dan keilmuan. Sebelum mentor itu diakui sebagai pimpinan tim, ia membuka diri untuk dikritik dan disanggah semua pandangannya. Inilah uji material dan nyali seorang tutor. Ketika ia tidak sanggup menjawab sanggahan, maka posisinya telah turun dan harus diganti dengan yang lain.&lt;br /&gt;Dengan mengamati sekilas sistem tutorial ini, indoktrinasi yang rasional menjadi basis perkaderan. Tidak ada wilayah haram untuk ditanya atau digugat. Ketika wilayah wacana sudah selesai dan berlanjut ke wilayah aksi, semua anggota bergerak secara organik dalam sistem komando. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Avatar&lt;br /&gt;Kisah Naruto tidak bicara heroisme privat dan keajaiban. Naruto hanyalah seorang murid sekolah ninja. Tidak ada yang istimewa dalam dirinya, kecuali bahwa ia telah mencerap dan menjalani sistem perkaderan. Ada unsur teleologis yang membuatnya akhirnya bisa menahan diri untuk memarkir keakuannya, hanya dalam dirinya saja.&lt;br /&gt;Inilah yang membedakan kualitas nilai dalam kisah animasi Naruto dibandingkan dengan Avatar. Dalam animasi Avatar, Sang Messiah, memperoleh kedigjayaan secara langsung given, tanpa belajar. Organisasi yang dibuatnya tiada lain adalah gerombolan.&lt;br /&gt;Avatar tidak pernah membangun sistem. Kalaupun ia berhasil membangun sebuah organisasi, ia hanya bergerak berdasarkan kharisma mistiknya. Ketika ia lenyap, maka bubar jualah organisasi tersebut.&lt;br /&gt;Avatar juga tidak peduli dengan bagaimana bangunan sosial di sekelilingnya. Ia menghindari diri untuk konflik dengan kerajaan api. Padahal kelakuan kerajaan api jelas-jelas merusak. Dalam alam kasat mata, konflik dan perang adalah suatu kemestian yang mesti dihadapi. Tidak setiap orang bisa diajak diskusi dan bermain wacana. Dan tidak setiap penguasa zalim nan penindas mau menerima ocehan kita.&lt;br /&gt;Perkaderan melalui sistem sel adalah sebuah pilihan rasional ketika nilai-nilai ideologis ingin dilanggengkan dalam sebuah perkaderan dengan anggota yang steril. Figur atau aikon awal organisasi hanyalah sebagai tukang yang mengerjakan bangunan awal organisasi ini. Selanjutnya, penghuni atau kader yang melestarikan dan mengembangkannya.[andito]&lt;br /&gt;Makalah untuk diskusi perkaderan di kalangan mahasiswa Bandung, 4 Mei 2008.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-6388372907929977818?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/6388372907929977818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=6388372907929977818&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/6388372907929977818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/6388372907929977818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/05/refleksi-perkaderan-via-naruto.html' title='Refleksi Perkaderan via Naruto'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-2066023773804687567</id><published>2008-04-23T11:45:00.001+07:00</published><updated>2008-04-23T11:48:18.257+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><title type='text'>HMI: Bebaskan 8 Saudara Kami !!!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA&lt;/strong&gt; – Kemarin (22/4), sekitar 200 orang mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi demonstrasi di depan Kejaksaan Agung RI, Blok M. Aksi ini  dilakukan untuk menuntut pembebasan 8 orang anggota HMI Cabang Medan yang pada 2 April lalu ditangkap oleh Poltabes Medan, dengan tuduhan perusakan Konjend Belanda di Medan pada saat mereka melakukan demonstrasi terhadap film “Fitna” yang dibuat oleh politikus Belanda, Greet Wilders. Aksi serupa yang berawal dari rasa solidaritas kader-kader HMI ini sebelumnya telah banyak dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jambi dan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aksi ini diikuti oleh kader-kader HMI dari daerah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi Karawang, Banten, dan oleh para Pengurus Besar (PB) HMI. Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB ini pada awalnya berlangsung dengan damai dan tertib. Setelah beberapa saat terjadilah sedikit bentrokan dengan polisi, namun akhirnya bentrokan tersebut dapat diakhiri dengan tidak ada korban sedikit pun. Para demonstran tersebut membawa spanduk yang berisi tuntutan yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengutuk film “Fitna” yang dibuat oleh politikus Belanda, Geert Wilders.&lt;br /&gt;2. Boikot produk Belanda.&lt;br /&gt;3. Bebaskan 8 kader HMI yang ditahan oleh Poltabes Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, para kader-kader HMI tersebut merasa kecewa, karena hanya dalam waktu sepuluh hari kasus rekan-rekannya sudah dilimpahkan ke Kejari Medan dan siap disidangkan. "Saya merasa aneh dengan pihak kepolisian Medan, yang terkesan berlebihan dalam menyikapi respon kader HMI Medan yang mendemo film Fitna. Ada kesan pihak kepolisian berada dalam kondisi ditarget, kata Ketua Umum PB HMI Fajar Zulkarnaen saat sedang berorasi. Setelah sekitar satu setengah jam berorasi, akhirnya perwakilan HMI diterima untuk beraudiensi dengan pihak Kejaksaan Agung, lalu massa yang sedang berdemonstrasi menunda aksinya sementara untuk melakukan shalat Ashar berjamaah di depan gedung Kejaksaan Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat berjamaah selesai para kader HMI melanjutkan orasi demi orasinya. Sekitar 15 menit kemudian 10 orang perwakilan HMI yang hanya diterima oleh Kasubid Hubungan Media Massa, Agung Dipo, mengaku kecewa berat dengan respon yang diberikan pihak Kejagung. Karena yang diinginkan adalah Jaksa Agung Hendarman Supandji.&lt;br /&gt;"Kita salah orang. Sudah Jelas aspirasi kita tidak tersampaikan. Kita kecewa," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap hasil yang tidak membuahkan apa-apa tersebut, para kader HMI pun berjanji untuk membawa lebih banyak lagi kader-kadernya, bahkan mereka pun mengancam akan melakukan aksi massa HMI serentak di seluruh penjuru nusantara untuk menuntaskan masalah ini. Para demonstran ini pun membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WIB. (Adt)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-2066023773804687567?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/2066023773804687567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=2066023773804687567&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/2066023773804687567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/2066023773804687567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/04/hmi-bebaskan-8-saudara-kami.html' title='HMI: Bebaskan 8 Saudara Kami !!!'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-7487159733723111211</id><published>2008-04-11T15:04:00.005+07:00</published><updated>2008-04-11T17:23:50.235+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perasuransian'/><title type='text'>Mendongkrak Peran Industri Asuransi Melalui Dunia Pendidikan</title><content type='html'>Oleh : Pradikta Dwi Anthony&lt;br /&gt;• Aktivis HMI STMA Trisakti&lt;br /&gt;• Pengurus LK2AI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga keuangan, perusahaan asuransi menghimpun dana (premi) dari masyarakat (pemegang polis/tertanggung). Asuransi berperan mengambil sebagian risiko yang harus ditanggung masyarakat. Selain untuk membayar klaim dari tertanggung, premi yang terkumpul dapat diinvestasikan kepada sektor usaha. &lt;br /&gt;Dengan kata lain, asuransi dapat menjadi mitra pemerintah dalam mobilisasi dana masyarakat untuk digunakan dalam pembangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal ini tidak akan dapat terwujud tanpa kesadaran bersama seluruh stakeholder yakni pelaku usaha, konsumen/tertanggung, regulator/pemerintah, termasuk wakil-wakil rakyat. Tanpa kesadaran dari stakeholder, dunia perasuransian akan semakin kerdil dibandingkan sektor perekonomian lainnya, khususnya perbankan. Masyarakat juga harus terus dididik untuk berpikir investasi jangka panjang melalui industri asuransi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak dapat dipungkiri bahwa kontribusi industri asuransi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih sangat rendah. Pada tahun 2006 hanya 1,57%. Kontribusi kecil ini tentu lebih rendah dibandingkan industri perbankan atau kontribusi asuransi di negara lain di dunia, bahkan dari negara Asia lainnya. Berdasarkan data Sigma Swiss Re No. 4/2007, sumbangan premi asuransi terhadap PDB Korea Selatan (11,1%), Jepang (10,5%), Singapura (6,5%), Malaysia (4,9%), atau India (4,8%) jauh melebihi kontribusi industri asuransi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti dengan rendahnya sumbangan industri asuransi terhadap PDB Indonesia menyebabkan pemerintah tidak serius dalam memajukannya. Meskipun data menunjukkan bahwa kontribusi terhadap PDB selama lima tahun terakhir hingga 2006 tak pernah mencapai 2% (tepatnya 1,57%-1,87%). Justru pemerintah harus semakin giat mendorong tumbuhnya industri asuransi agar lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Asuransi&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perguruan tinggi (PT) yang membuka fakultas atau pendidikan khusus asuransi masih dapat dihitung dengan jari dan hanya di Jakarta. Sangat minimnya institusi pendidikan formal asuransi memang wajar mengingat tingkat kesadaran masyarakat Indonesia untuk berasuransi (insurance minded) masih sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni SMA yang mendaftar ke PT di bidang asuransi diperkirakan bukan karena termotivasi akan pentingnya asuransi atau terbius karir cerah di asuransi, melainkan karena terpengaruh sanak famili mereka yang bekerja di industri asuransi (‘nepotisme pendidikan’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya mahasiswa memperdalam asuransi bukan hanya faktor di atas, tetapi juga disebabkan lemahnya manajemen PT di bidang asuransi dalam mengenalkan ke industri dan masyarakat. Perlu adanya sinergi dalam bentuk kerja sama mutualisme antara industri dan PT guna mengkampanyekan asuransi ke tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan formal di PT tidak akan dapat berfungsi secara optimal jika tidak diperhatikan secara khusus oleh pemerintah. Kontribusi pemerintah dalam ‘kampanye’ penyadaran masyarakat tentang pentingnya asuransi harus terus dilakukan. Namun pemerintah dengan wewenangnya bisa memberikan hal yang lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan asuransi sejak di tingkat pendidikan menengah sangat dibutuhkan. Tidak hanya mensosialisaikan sepintas lalu ke murid-murid SMP/SMA. Ini lebih efektif dengan cara memasukkan materi asuransi dalam mata pelajaran di sekolah. Selain untuk sosialisasi mengenai pentingnya berasuransi, juga bisa sebagai pendongkrak mahasiswa yang mendaftar ke PT di bidang asuransi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah bahkan bisa mengenalkan di tingkat pendidikan yang lebih dini. Perkenalan bisa di tingkat pendidikan dasar dengan memberikan pemahaman tentang manajemen risiko. Tentu disadari bahwa manajemen risiko tidak hanya asuransi. Manajemen risiko mempunyai cakupan yang sangat luas dan ini sangat mendesak di tengah menejemen risiko bangsa ini yang amburadul di hampir semua lini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang dibahas di atas adalah sejalan dengan sasaran pembangunan Bappenas pada tahun 2008, yaitu “Meningkatnya peranan lembaga jasa keuangan non bank terhadap perekonomian yang dicerminkan oleh peningkatan rasio nilai aset lembaga jasa keuangan non bank terhadap PDB dan tersedianya mekanisme perlindungan nasabah atau investor lembaga jasa keuangan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memajukan perekonomian bangsa dari sektor industri asuransi melalui pembangunan dunia pendidikan bukan hanya tugas pemerintah dan lembaga pendidikan. Perusahaan asuransi selayaknya turut berperan aktif dengan berinvestasi untuk kegiatan pendidikan seperti mendukung litbang di PT. Diharapkan akan tercipta suatu dinamika hubungan segi tiga antara pemerintah, industri asuransi, dan PT yang pada akhirnya akan memberikan sumbangan besar pada peningkatan produktivitas nasional dan akan tercipta kesejahteraan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-7487159733723111211?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/7487159733723111211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=7487159733723111211&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/7487159733723111211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/7487159733723111211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/04/mendongkrak-peran-industri-asuransi.html' title='Mendongkrak Peran Industri Asuransi Melalui Dunia Pendidikan'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-6051055691552179391</id><published>2008-03-29T11:05:00.004+07:00</published><updated>2008-04-11T17:04:09.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perubahan Sosial'/><title type='text'>Teori Konflik Sosial</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Konflik Sosial :&lt;br /&gt;Dari Mana Kita Menjelaskannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat menarik dan perlu untuk dicermati artikel Rizal Mallaranggeng (mahasiswa S3 jurusan ilmu politik, The Ohio State University, AS), yang berjudul Konflik Maluku dan Reorientasi Ilmu Sosial, di harian Kompas, 19 Januari 2000. Dalam artikel itu dikemukakan kegagalan ilmuwan sosial kita dalam menjelaskan konflik-konflik sosial yang terjadi akhir-akhir ini secara meluas. Akar kegagalan ini adalah titik tolak yang digunakan dalam menjelaskan masalah yang berkembang.&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tanggapan yang sesungguhnya atas artikel tersebut, tapi sebagai inspirasi teoritis bagaimana melihat kondisi konflik akhir-akhir ini. Tujuan tulisan ini untuk merangsang minat para pengamat sosial di daerah kita, lebih melihat realitas multidimensi dari dunia sosial, sebagai suatu antisipasi pola-pola kekerasan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku Mikro Sebagai Titik Tolak&lt;br /&gt;Menurut Rizal, akar kegagalan menjelaskan berbagai konflik yang terjadi, dikarenakan konflik lebih dilihat sebagai masalah yang berakar dari kesenjangan ekonomi, keadilan, atau pengalaman penindasan di masa orde baru. Tema-tema semacam inilah yang terus-menerus dibolak-balik.&lt;br /&gt;Secara umum teori ini cenderung melihat masyarakat sebagai the innocent party yang berhadapan dengan negara yang represif. Masyarakat tidak dianggap sebagai sebuah entitas yang problematik. Kalau toh ada konflik atau persoalan dalam masyarakat, ia lebih dipandang sebagai akibat penetrasi negara, atau cerminan dari manipulasi dan pertentangan para elite negara yang mengendalikan negara.&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalan, cara pandang ini sering tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Misalnya, kenapa konflik yang terjadi seperti di Ambon, Ternate, Sambas, Tasikmalaya, Banjarmasin dan Situbondo bukan merupakan wilayah yang punya kesenjangan yang tajam sebagaimana kesenjangan yang terjadi di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa konflik terjadi di Halmahera dan kepulauan Maluku umumnya yang justru basis ekonominya bersifat agraris ; kenapa kota atau daerah yang mendapatkan tingkat represi militer justru tidak memperlihatkan gejala konflik daripada daerah-daerah yang selama ini kurang mendapatkan represi militer dan lain-lain.&lt;br /&gt;Kegagalan mengemukakan masalah karena titik tolak yang tidak memadai ini haruslah diganti dengan titik tolak pada masyarakat itu sendiri. Negara memang tetap menjadi sumber masalah, tetapi bukan karena ia kuat dan dominan, tetapi justru karena ia lemah dan hampir tidak berdaya untuk menjalankan perannya sebagai alat penegak hukum dan tata tertib. Dengan demikian pokok persoalan konflik sosial haruslah dilihat dalam masyarakt itu sendiri. Dengan kata lain, bringing the state back in haruslah digeser kepada bringing the society back in.&lt;br /&gt;Secara tegas Rizal menyerukan agar "kita harus mempelajari perilaku mikro". Titik tolak ini diyakini bisa menjelaskan dengan lebih terinci mengapa konflik-konflik seperti terjadi di Maluku mengambil bentuk yang begitu keras dan berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursus Sosiologi Makro dan Mikro&lt;br /&gt;Sampai pada titik tolak kesimpulan di atas, artikel Rizal ini sesungguhnya memang menarik apabila jika dilihat dari perspektif diskursus perkembangan ilmu-ilmu sosial modern dan kontemporer. Artikel tersebut secara implisit sesungguhnya ingin menunjukkan terjadinya suatu kecenderungan untuk lebih menekankan salah satu dimensi dari realitas multtidimensi fenomena sosial.&lt;br /&gt;Secara teoritik, kecenderungan untuk menekankan pada satu dimensi dalam melihat gejala-gejala sosial berakar dari persoalan : apa yang paling menentukan suatu tindakan sosial terjadi dalam masyarakat apakah kesadaran individu atau masyarakat yang lebih menentukan tindakan sosial ataukah struktur sosial dengan seperangkat institusinya yang mempengaruhi individu dan masyarakat dalam melakukan tindakan sosial.&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan inilah yang "menghantui" perkembangan teori-teori sosial modern dan kontemporer. Dalam perkembangan teori-teori sosial modern, pola kecenderungan untuk menekankan salah satu kutub secara ekstrem telah dimulai dari sosiologi Comte. Comte menekankan tingkat budaya dalam kenyataan sosial, khususnya tahap-tahap perkembangan intelektual. Kecenderungan ekstrem pada salah satu kutub ini sesungguhnya disadari oleh Marx dengan memperkenalkan pendekatan dialektika materialisme-historis dalam fenomena sosial. Menurut Marx "Men make their own history, but they do not make it just as they please". &lt;br /&gt;Namun demikian, karena Marx lebih memusatkan perhatiannya pada cara orang menyesuaikan diri dengan lingkungan fisiknya, ia justru terjebak untuk lebih menekankan struktur sosial daripada kesadaran aktor. Kegagalan Marx dalam mempertahankan posisi dialektis suatu fenomena sosial terumuskan dalam ungkapannya sendiri: "It is not the consciusness of men that determines their existence, but their sosial existence that determines their consciusness".&lt;br /&gt;Perilaku sosial, dengan demikian, lebih berorientasi kepada lingkungan. Lingkungan ini tentunya tidak hanya membuat kondisi-kondisi tetapi bagian dari perumus tujuan-tujuan dan norma-norma kelakuan sosial.&lt;br /&gt;Di tempat yang berbeda, kecenderungan untuk menekankan kutub kesadaran individu-individu dirumuskan oleh Weber. Menurutnya, bukanlah struktur-struktur sosial atau peranan-peranan sosial yang pertama-tama menghubungkan orang dan menentukan isi corak kelakuan mereka, melainkan "arti-arti" yang dikenakan orang kepada kelakuan mereka. Bagi Weber, hanya individu-individu yang riil secara objektif, dan masyarakat menunjukkan sekumpulan individu-individu.&lt;br /&gt;Dalam konteks dikotomistis ini, Parsond tampil untuk menyatukan dikotomi ini dengan teori fungsionalisme-struktural. Ia ingin memperlihatkan bagaimana posisi individu-individu dari perannya dalam fungsi-fungsi struktur sosial. Namun demikian, tujuannya untuk menjelaskan "bagaimana keteraturan masyarakat itu dimungkinan" justru menyeret dia untuk lebih mementingkan sistem struktur sosial daripada individu-individu. Posisi yang sama juga telah dilakukan Herbert Mead lewat teori "Interaksionisme-simbolis". Baginya, struktur sosial memang menyediakan kondisi-kondisi tindakan sosial, tetapi tidak menentukan.&lt;br /&gt;Dalam perkembangan teori-teori ilmu sosial yang paling kontemporer, usaha untuk melihat hubungan masyarakat (individu-individu) dengan struktur sosial secara seimbang juga sedang dilakukan.&lt;br /&gt;Berger, misalnya, mencoba menghindari kecenderungan yang lebih menekankan salah satu kutub melalui teori "konstruksi sosial". Menurut teori ini, dunia sosial dipahami dalam pola hubungan yang dialektis antara individu dan struktur sosial melalui tiga momentum proses, yakni eksternalisasi, objektivisi, dan internalisasi.&lt;br /&gt;Kita juga melihat usaha yang sedang dirumuskan oleh Anthony Giddens lewat teori "strukturasi". Giddens dalam konteks aktor dan struktur sosial ini menunjukkan titik tolak hubungan tersebut dalam kesadaran subjek yang bersifat intensional. Kesadaran itu baginya bukan sesuatu yang tertutup dan terlepas dari objek-objek yang disadari, tapi kesadaran selalu mengarah dan melibatkan objek. Demikian pula tindakan sosial (agency) selalu mengandalkan keterlibatan struktur sosial. Tindakan sosial tidak pernah terlepas dari struktur sosial, struktur dalam konteks tindakan sosial, dengan demikian, berperan sebagai sarana (medium) dan sumber-daya (resources) bagi tindakan sosial, yang kemudian membentuk sistem dan institusi sosial. Bentuk pelibatan tindakan sosial dengan struktur ini ditunjukkan Giddens dalam apa yang disebutnya sebagai "recurrent sosial practioces". Proses strukturasi ini terjadi pada tingkat kesadaran praktis (practical consciousness). Dan pada level kesadaran ini pula struktur dibangun dan dilanggengkan dalam rutinisasi dan direproduksi. Ini bisa berlangsung karena pada tindakan sosial yang berulang-ulang berakar suatu rasa aman ontologis (otological anxiety). Proses strukturasi ini mencapai titik baliknya pada kesadaran diskursif (discursive conciousness). Dalam kesadaran yang terakhir inilah terbentuk daya reflexity dalam diri pelaku (agency) untuk mengambil jarak dan mensiasati secara kritis suatu gejala. Perubahan sosial dalam konteks ini terjadi lewat aplikasi reflexity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama Makro dan Mikro&lt;br /&gt;Apa yang ingin penulis tegaskan di sini adalah kecenderungan untuk lebih menekankan salah satu perspektif memang sering terjadi. Secara metodologis, kecenderungan ini biasanya menyangkut sudut pandang dan titik tekan yang diambil oleh ilmuwan sosial. Dalam kerangka ini tentu sah-sah saja karena menyangkut sifat dari fenomena sosial yang multidimensi dan memiliki tingkat partikularitas atau keunikan gejala yng sangat tinggi.&lt;br /&gt;Adapun secara praktis kadang-kadang kecenderungan itu tidak hanya dikarenakan pilihan minat tapi juga trend dari suatu teori sosial yang sedang populer. Dalam konteks yang terakhir inilah, ilmuwan sosial sering melibatkan diri.&lt;br /&gt;Dari sini sesungguhnya, kerjasama antar pendekatan atau perspektif sangatlah diperlukan, mengingat fenomena konflik dengan segala permasalahan sudah sedemikian kompleks. Artinya, diskursus tentang negara tidak bisa begitu saja kita abaikan sedemikian rupa, mengingat pemerintahan Gus Dur-Megawati merupakan masa transisi dari suatu bargaining position antara kekuatan lama dengan kekuatan baru.&lt;br /&gt;Dari sini pula, sudah saatnya Pemda Prop Tk I Kalsel memiliki suatu lembaga yang otonom untuk kajian potensi konflik di daerah, yang melibatkan berbagi instansi dan lembaga perguruan tinggi. Usulan ini sebagai antisipasi terulangnya cerita "Jumat Kelabu" 23 Mei 1997. Siapa tahu dari lembaga ini akan muncul pemikiran tentang berbagai potensi positif sumber daya manusia di Kalsel yang justru bisa bermanfaat untuk membangun daerah kita.&lt;br /&gt;Irfan Noor, S.Ag mahasiswa Ilmu Filsafat UGM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-6051055691552179391?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/6051055691552179391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=6051055691552179391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/6051055691552179391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/6051055691552179391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/03/teori-konflik-sosial.html' title='Teori Konflik Sosial'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-92029338256928889</id><published>2008-03-29T10:50:00.003+07:00</published><updated>2008-04-11T16:43:34.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke-HMI-an'/><title type='text'>Dies Natalis...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Layakkah Kader HMI Memimpin Bangsa?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh :MOHAMAD NABIL&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada 5 Februari 2008, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menapaki usia yang ke 61 tahun. Sebuah usia yang cukup matang, jika dibandingkan dengan usia manusia. Namun, diusianya yang lebih setengah abad itu, vitalitasnya mulai melemah, perannyapun juga digugat, karena HMI tidak lagi menjadi solusi bagi umat dan bangsa, tapi malah menjadi bagian dari persoalan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis di atas setidaknya bisa dibuktikan dari aktivitas kader HMI yang tidak lagi merindukan semangat kepemimpinan dan intelektualisme. Di samping itu, secara internal, sistem kaderisasi HMI tidak mampu dikembangkan secara antisipatif dengan kebutuhan zamannya. Prestasi kebesaran HMI berhenti pada sekitar tahun 1980-an. Setelah itu tidak muncul lagi gerakan-gerakan yang mampu merespon zamannya. Kejayaan masa lalunya malah membuat para aktivisnya yang lahir pasca tahun 1980-an terpenjara di bawah kebesaran para pendahulunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi ketika sebagian alumninya banyak menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan Orde Baru. Keberadaan alumni HMI yang telah mendiaspora ke seluruh lini kekuasaan membuat para aktivis HMI merasa lebih gampang membangun lobi dan silaturahmi (bahasa penghalus koneksi dan kolusi). Hal itu bukan tidak berdampak terhadap keberlangsungan HMI secara organisatoris, tetapi justru merangsang dan menjebak para aktivis HMI untuk mengikuti jejak seniornya yang dimanjakan Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian telah merubah orientasi gerakan HMI yang pada awalnya bergerak di wiliyah kutural bergeser ke struktural. Akibatnya, gaung perjuangan HMI tak lagi terasa. Bahkan term “independen” yang menjadi identitas HMI di antara organisasi-organisasi lain tidak lagi nampak. Mereka tidak lagi tertarik dengan suasana intelectual exercises dalam forum-forum kajian, atau mengkaji suatu disiplin ilmu secara serius, tetapi lebih tertarik untuk mencerna teknik-teknik strategis yang lebih berorientasi struktural. Mereka lebih banyak belajar bagaimana menikmati kekuasaan, daripada mempertimbangkan konsekuensinya. Kepentingan politik sesaat menjadi mainstream, entah itu disengaja atau tidak oleh sebagian besar aktivis HMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran orientasi ke arena struktural meniscayakan organisasi ini memasuki kancah politik praktis yang penuh intrik dan kurang konstruktif. Akhirnya, yang lahir dari rahim HMI bukanlah kader-kader terdidik yang ahli dan mumpuni di bidangnya serta mampu mempertahankan integritas dan idealismenya. Tapi yang muncul adalah broker-broker instan-pragmatis yang hanya berideologi pulsa. Anehnya, kondisi seperti ini, diakui atau tidak, justru yang kini dinikmati oleh para aktivis HMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, ada pertanyaan mendasar yang pantas diajukan: kini, layakkah kader-kader HMI memimpin bangsa ini, atau minimal tidak menjadi bagian dari beban umat dan bangsa? Pertanyaan ini menjadi penting diajukan karena keterpurukan HMI sudah sangat akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika HMI tidak segera berbenah, maka jawabannya: sangat tidak layak kader-kader HMI memimpin bangsa ini; karena bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin broker, tetapi membutuhkan pemimpin yang tahu akan masalah bangsanya. Pertanyaan kemudian, dari mana HMI harus membenahi diri, biar kader-kadernya layak untuk mempimpin negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh Keberanian&lt;br /&gt;Dalam ikhtiar membenahi diri, HMI bisa memperkuat titik lemahnya dengan peran-peran berikut. Pertama, perlu adanya penguatan (strengthening) struktur ke dalam. Penguatan ke dalam ini menyangkut sumber daya atau orang-orang yang akan menjalankan HMI terutama ditingkat PB. Karena PB—meskipun tidak selamanya—selalu menjadi ukuran dan simbol apakah organisasi ini bertambah maju atau mundur. Pemilihan ketua umum dan perekrutan pengurus yang akan menempati pos-pos strategis di PB harus berdasarkan kalkulasi rasional. Yang diutamakan adalah orang yang betul-betul mempunyai integritas dan moralitas intelektual, serta kemampuan leadership.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai ada anggapan bahwa menjadi pengurus PB sebagai jenjang menjadi pejabat dan mencari keuntungan sesaat. Harus ada yang berani menggugat, bahwa kalau ingin menjadi pejabat dan ingin mencari keuntungan tempatnya bukan di HMI. Dengan begini, setidak-tidaknya HMI sudah memulai untuk tidak lagi menelorkan kader-kader yang bermental broker, preman, atau tukang palak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memperbaiki pola kaderisasi. Pola kaderisasi ini harus betul-betul diperhatikan secara serius oleh HMI. Jangan sampai pola perkaderan formal yang sudah ada—basic, intermediate, dan advance training—hanya sekedar menjadi insight bagi anggota HMI, tetapi harus bisa betul-betul tercermin dalam sikap dan tindakan mereka. Oleh karena itu, perlu diadakan pembahasan khusus yang melibatkan semua kader dan para ahli untuk memperbaiki pola kaderisasi yang ada. Sehingga, pedoman perkaderan tidak hanya sekedar melakukan repitisi, tetapi bagaimana bisa memenuhi berbagai tuntutan zaman dan mengantisipasi perubahan yang sulit diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, upaya membangkitkan kembali semangat intelektualisme dan back to campus. Jika semangat intelektualisme berkembang secara wajar dan intens di HMI, niscaya ia akan menjadi kekuatan penyeimbang, atau bahkan kekuatan kontrol bagi orientasi politik yang sedang menjadi trend. Karena gerakan intelektual lebih memungkinkan munculnya sikap kecendekiaan yang tidak terlalu tertarik dengan interes politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan back to campus, mencerminkan kembali pada tiga komponen pokok yang saling terkait: idealisme, intelektualisme, dan spritualisme (nilai-nilai moral). Idealisme sebagai cerminan dari kaum muda; intelektualisme sebagai representasi dari ciri mahasiswa dan; spritualisme sebagai bagian dari nilai keagamaan (Islam). Tinggal bagaimana ketiganya bisa tertanam dan menjadi komitmen dalam diri kader HMI. Idealisme yang ditunjang oleh pemikiran (intelektualitas) dan dilandasi oleh nilai keagaman universal justru akan melahirkan semangat pembebasan bagi kehidupan umat  dan bangsa di manapun ia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mempertegas independensi. Kendati HMI secara kultural tidak mempunyai ikatan dengan organisasai manapun, semisal IMM dengan Muhammaddiyahnya atau PMII dengan NU, namun sikap ketergantungan dan dependensinya yang dominan selama ini. Terlebih, jika dihadapkan pada alumni. Dalam hubungannya dengan alumni, HMI harus mempertegas bahwa hanya mempunyai ikatan historis dan aspiratif saja, dan tidak instruktif (organisatoris). Jika ada oknum-oknum alumni yang ingin menjadikan organisasi ini sebagai kendaraan politik, maka para aktivis HMI harus berani bilang tidak dan menolak sama sekali. Karena pada prinsipnya tugas alumni hanya melanjutkan misi HMI di dunia pengabdian masing-masing, yakni ikut bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai olah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga di hari jadinya yang ke 61 ini, aktivis HMI sadar dengan penyakit yang diidapnya, dan syukur apabila ide di atas menjadi bahan refleksi; apalagi menjadi program nyata. Jika hal tersebut menjadi program, dan kemudian punya keberanian untuk menjalankan secara serius, maka nanti (entah kapan?) dalam jangka panjang kita berharap HMI akan memainkan peran yang berarti, minimal bisa memperbaiki HMI kini, meskipun tidak bisa menyamai HMI dulu. Tetapi jika HMI tidak mau berbenah diri, maka ikhlaskan saja jika kader HMI tidak layak memimpin negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohamad Nabil (Peneliti muda CSRC UIN Jakarta &amp;amp; Pengurus Pusat Majelis Sinergi Kalam, ICMI).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-92029338256928889?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/92029338256928889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=92029338256928889&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/92029338256928889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/92029338256928889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/03/dies-natalis.html' title='Dies Natalis...'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-2619889092483701637</id><published>2008-03-05T15:47:00.003+07:00</published><updated>2008-04-11T16:57:38.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Logika dan Filsafat'/><title type='text'>Logika</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Logika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berpikir&lt;br /&gt;Logika berasal dari kata &lt;a title="Yunani kuno" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yunani_kuno"&gt;Yunani kuno&lt;/a&gt; λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.&lt;br /&gt;Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika#_note-0"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="Logika_sebagai_ilmu_pengetahuan"&gt;&lt;/a&gt;Logika sebagai ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.&lt;br /&gt;&lt;a name="Logika_sebagai_cabang_filsafat"&gt;&lt;/a&gt;Logika sebagai cabang filsafat&lt;br /&gt;Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya &lt;a title="Filsafat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat"&gt;filsafat&lt;/a&gt; di &lt;a title="Yunani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yunani"&gt;Yunani&lt;/a&gt;. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan &lt;a title="Kesesatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kesesatan"&gt;kesesatan penalarannya&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Logika digunakan untuk melakukan &lt;a title="Pembuktian" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembuktian&amp;amp;action=edit"&gt;pembuktian&lt;/a&gt;. Logika mengatakan yang bentuk &lt;a title="Inferensi" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Inferensi&amp;amp;action=edit"&gt;inferensi&lt;/a&gt; yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang &lt;a title="Filosofi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filosofi"&gt;filosofi&lt;/a&gt;, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang &lt;a title="Matematika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matematika"&gt;matematika&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a name="Sejarah_Logika"&gt;&lt;/a&gt;Sejarah Logika&lt;br /&gt;&lt;a name="Masa_Yunani_Kuno"&gt;&lt;/a&gt;Masa Yunani Kuno&lt;br /&gt;Logika dimulai sejak &lt;a title="Thales" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Thales"&gt;Thales&lt;/a&gt; (&lt;a title="624 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/624_SM"&gt;624 SM&lt;/a&gt; - &lt;a title="548 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/548_SM"&gt;548 SM&lt;/a&gt;), &lt;a title="Filsuf Yunani" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Filsuf_Yunani&amp;amp;action=edit"&gt;filsuf Yunani&lt;/a&gt; pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.&lt;br /&gt;Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan &lt;a title="Logika induktif" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Logika_induktif&amp;amp;action=edit"&gt;logika induktif&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a title="Aristoteles" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aristoteles"&gt;Aristoteles&lt;/a&gt; kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.&lt;br /&gt;Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:&lt;br /&gt;Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)&lt;br /&gt;Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia&lt;br /&gt;Air jugalah uap&lt;br /&gt;Air jugalah es&lt;br /&gt;Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.&lt;br /&gt;Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (&lt;a title="427 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/427_SM"&gt;427 SM&lt;/a&gt;-&lt;a title="347 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/347_SM"&gt;347 SM&lt;/a&gt;) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.&lt;br /&gt;Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai &lt;a title="Argumentasi" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Argumentasi&amp;amp;action=edit"&gt;argumentasi&lt;/a&gt; yang berangkat dari &lt;a title="Proposisi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Proposisi"&gt;proposisi&lt;/a&gt; yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah &lt;a title="Silogisme" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Silogisme&amp;amp;action=edit"&gt;silogisme&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:&lt;br /&gt;Categoriae menguraikan pengertian-pengertian&lt;br /&gt;De interpretatione tentang keputusan-keputusan&lt;br /&gt;Analytica Posteriora tentang pembuktian.&lt;br /&gt;Analytica Priora tentang &lt;a title="Silogisme" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Silogisme&amp;amp;action=edit"&gt;Silogisme&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.&lt;br /&gt;De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.&lt;br /&gt;Pada &lt;a title="370 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/370_SM"&gt;370 SM&lt;/a&gt; - &lt;a title="288 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/288_SM"&gt;288 SM&lt;/a&gt; &lt;a title="Theophrastus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Theophrastus"&gt;Theophrastus&lt;/a&gt;, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin &lt;a title="Lyceum" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lyceum&amp;amp;action=edit"&gt;Lyceum&lt;/a&gt;, melanjutkan pengembangn logika.&lt;br /&gt;Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium &lt;a title="334 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/334_SM"&gt;334 SM&lt;/a&gt; - &lt;a title="226 SM" href="http://id.wikipedia.org/wiki/226_SM"&gt;226 SM&lt;/a&gt; pelopor &lt;a title="Kaum Stoa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kaum_Stoa"&gt;Kaum Stoa&lt;/a&gt;. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (&lt;a title="130 M" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=130_M&amp;amp;action=edit"&gt;130 M&lt;/a&gt; - &lt;a title="201 M" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=201_M&amp;amp;action=edit"&gt;201 M&lt;/a&gt;) dan Sextus Empiricus &lt;a title="200 M" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=200_M&amp;amp;action=edit"&gt;200 M&lt;/a&gt;, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.&lt;br /&gt;Porohyus (&lt;a title="232" href="http://id.wikipedia.org/wiki/232"&gt;232&lt;/a&gt; - &lt;a title="305" href="http://id.wikipedia.org/wiki/305"&gt;305&lt;/a&gt;) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles.&lt;br /&gt;Boethius (&lt;a title="480" href="http://id.wikipedia.org/wiki/480"&gt;480&lt;/a&gt;-&lt;a title="524" href="http://id.wikipedia.org/wiki/524"&gt;524&lt;/a&gt;) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya.&lt;br /&gt;Johanes Damascenus (&lt;a title="674" href="http://id.wikipedia.org/wiki/674"&gt;674&lt;/a&gt; - &lt;a title="749" href="http://id.wikipedia.org/wiki/749"&gt;749&lt;/a&gt;) menerbitkan Fons Scienteae.&lt;br /&gt;&lt;a name="Abad_pertengahan_dan_logika_modern_.07UN"&gt;&lt;/a&gt;Abad pertengahan dan logika modern &lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika#_note-1"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan.&lt;br /&gt;Thomas Aquinas &lt;a title="1224" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1224"&gt;1224&lt;/a&gt;-&lt;a title="1274" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1274"&gt;1274&lt;/a&gt; dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika.&lt;br /&gt;Lahirlah &lt;a title="Logika modern" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika_modern"&gt;logika modern&lt;/a&gt; dengan tokoh-tokoh seperti:&lt;br /&gt;Petrus Hispanus &lt;a title="1210" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1210"&gt;1210&lt;/a&gt; - &lt;a title="1278" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1278"&gt;1278&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Roger Bacon &lt;a title="1214" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1214"&gt;1214&lt;/a&gt;-&lt;a title="1292" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1292"&gt;1292&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Raymundus Lullus (&lt;a title="1232" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1232"&gt;1232&lt;/a&gt; -&lt;a title="1315" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1315"&gt;1315&lt;/a&gt;) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam &lt;a title="Aljabar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aljabar"&gt;aljabar&lt;/a&gt; pengertian.&lt;br /&gt;William Ocham (&lt;a title="1295" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1295"&gt;1295&lt;/a&gt; - &lt;a title="1349" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1349"&gt;1349&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (&lt;a title="1588" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1588"&gt;1588&lt;/a&gt; - &lt;a title="1679" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1679"&gt;1679&lt;/a&gt;) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (&lt;a title="1632" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1632"&gt;1632&lt;/a&gt;-&lt;a title="1704" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1704"&gt;1704&lt;/a&gt;) dalam An Essay Concerning Human Understanding&lt;br /&gt;Francis Bacon (&lt;a title="1561" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1561"&gt;1561&lt;/a&gt; - &lt;a title="1626" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1626"&gt;1626&lt;/a&gt;) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.&lt;br /&gt;J.S. Mills (&lt;a title="1806" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1806"&gt;1806&lt;/a&gt; - &lt;a title="1873" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1873"&gt;1873&lt;/a&gt;) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic&lt;br /&gt;Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:&lt;br /&gt;Gottfried Wilhelm Leibniz (&lt;a title="1646" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1646"&gt;1646&lt;/a&gt;-&lt;a title="1716" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1716"&gt;1716&lt;/a&gt;) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.&lt;br /&gt;George Boole (&lt;a title="1815" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1815"&gt;1815&lt;/a&gt;-&lt;a title="1864" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1864"&gt;1864&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;John Venn (&lt;a title="1834" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1834"&gt;1834&lt;/a&gt;-&lt;a title="1923" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1923"&gt;1923&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Gottlob Frege (&lt;a title="1848" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1848"&gt;1848&lt;/a&gt; - &lt;a title="1925" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1925"&gt;1925&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Lalu &lt;a title="Chares Sanders Peirce" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Chares_Sanders_Peirce&amp;amp;action=edit"&gt;Chares Sanders Peirce&lt;/a&gt; (&lt;a title="1839" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1839"&gt;1839&lt;/a&gt;-&lt;a title="1914" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1914"&gt;1914&lt;/a&gt;), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di &lt;a title="John Hopkins University" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=John_Hopkins_University&amp;amp;action=edit"&gt;John Hopkins University&lt;/a&gt;,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umu mengenai tanda (general theory of signs)&lt;br /&gt;Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun &lt;a title="1910" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1910"&gt;1910&lt;/a&gt;-&lt;a title="1913" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1913"&gt;1913&lt;/a&gt; dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (&lt;a title="1861" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1861"&gt;1861&lt;/a&gt; - &lt;a title="1914" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1914"&gt;1914&lt;/a&gt;) dan Bertrand Arthur William Russel (&lt;a title="1872" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1872"&gt;1872&lt;/a&gt; - &lt;a title="1970" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1970"&gt;1970&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (&lt;a title="1889" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1889"&gt;1889&lt;/a&gt;-&lt;a title="1951" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1951"&gt;1951&lt;/a&gt;), Rudolf Carnap (&lt;a title="1891" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1891"&gt;1891&lt;/a&gt;-&lt;a title="1970" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1970"&gt;1970&lt;/a&gt;), Kurt Godel (&lt;a title="1906" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1906"&gt;1906&lt;/a&gt;-&lt;a title="1978" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1978"&gt;1978&lt;/a&gt;), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;a name="Logika_sebagai_matematika_murni"&gt;&lt;/a&gt;Logika sebagai matematika murni&lt;br /&gt;Logika masuk kedalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (&lt;a title="Logika modern" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika_modern"&gt;logika simbolik&lt;/a&gt;). Logika tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.&lt;br /&gt;Puncak &lt;a title="Logika modern" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika_modern"&gt;logika simbolik&lt;/a&gt; terjadi pada tahun &lt;a title="1910" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1910"&gt;1910&lt;/a&gt;-&lt;a title="1913" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1913"&gt;1913&lt;/a&gt; dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (&lt;a title="1861" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1861"&gt;1861&lt;/a&gt; - &lt;a title="1914" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1914"&gt;1914&lt;/a&gt;) dan Bertrand Arthur William Russel (&lt;a title="1872" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1872"&gt;1872&lt;/a&gt; - &lt;a title="1970" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1970"&gt;1970&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;a name="Kegunaan_logika"&gt;&lt;/a&gt;Kegunaan logika&lt;br /&gt;Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.&lt;br /&gt;Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.&lt;br /&gt;Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.&lt;br /&gt;Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis&lt;br /&gt;Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.&lt;br /&gt;Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.&lt;br /&gt;&lt;a name="Macam-macam_logika"&gt;&lt;/a&gt;Macam-macam logika&lt;br /&gt;&lt;a name="Logika_alamiah"&gt;&lt;/a&gt;Logika alamiah&lt;br /&gt;Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.&lt;br /&gt;&lt;a name="Logika_ilmiah"&gt;&lt;/a&gt;Logika ilmiah&lt;br /&gt;Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta &lt;a title="Akal budi" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Akal_budi&amp;amp;action=edit"&gt;akal budi&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;a name="Referensi"&gt;&lt;/a&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika#_ref-0"&gt;^&lt;/a&gt; Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis. Oleh &lt;a title="Jan Hendrik Rapar" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jan_Hendrik_Rapar&amp;amp;action=edit"&gt;Jan Hendrik Rapar&lt;/a&gt;. Penerbit Kanisius. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Istimewa:Sumber_buku&amp;amp;isbn=9794976768"&gt;ISBN 979-497-676-8&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika#_ref-1"&gt;^&lt;/a&gt; Logika Selayang Pandang. Oleh Alex Lanur OFM. Penerbit Kanisius 1983. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Istimewa:Sumber_buku&amp;amp;isbn=9794131245"&gt;ISBN 979-413-124-5&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-2619889092483701637?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/2619889092483701637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=2619889092483701637&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/2619889092483701637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/2619889092483701637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/03/logika.html' title='Logika'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-5891060483298546205</id><published>2008-03-03T19:37:00.002+07:00</published><updated>2008-04-11T17:13:08.013+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perubahan Sosial'/><title type='text'>Postmodernisme...</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;POSTMODERNISME:&lt;br /&gt;SPIRITUALITAS TANPA KEBENARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gene Edward Veith, Jr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Judul Asli: Postmodern Times: A Christian Guide to Contemporary Thought And Culture&lt;br /&gt;Disadur oleh: Ev. Gunung Maston, S.Th.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejak&lt;/span&gt; Masa Pencerahan sampai abad modern, para pakar sudah mengharapkan bahwa suatu saat agama pasti akan mati. Hal ini tidak terjadi. "Manusia modern" yang sering disebut demikian (sebelum munculnya gerakan feminisme - gerakan yang mempertentangkan kaum pria dengan wanita), ternyata telah gagal percaya kepada hal-hal yang supranatural.&lt;br /&gt;        Abad keduapuluh dibuka dengan debat teologis antara kelompok "Modernis" dengan kelompok "Fundamentalis". Dengan Scopes Trial tahun 1925, media membuat karikatur yang menggambarkan kaum Fundamentalis sedang diejek dan ditertawakan oleh kaum intelektual. Waktu itu kaum modernis menguasai mayoritas gereja dan juga seminari-seminari. Sejak itu, teolog-teolog modernis telah "mendemitologisasikan" - membuang semua isi yang berbau supranatural dari - Alkitab, agar isi Alkitab dapat disesuaikan dengan pemikiran zaman modern. Mereka berasumsi bahwa manusia modern sudah begitu berorientasi dengan metoda sains, juga dominasi "secular city" (dunia sekuler) sudah mengakibatkan manusia modern tidak lagi dapat percaya kepada mujizat, wahyu ilahi, dan Allah yang tidak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;        Banyak seminari mulai mempelajari Alkitab, bukan sebagai Firman Allah yang berotoritas, tetapi hanya sama dengan dokumen-dokumen kuno, sehingga dalam mempelajarinya harus memakai metodologi "historis-kritis", yaitu metoda yang dipakai oleh para pakar ilmuwan modern (yang biasanya diterapkan kepada ilmu alam dan sosial). Pendekatan dengan metode ini mengasumsikan bahwa mujizat di dalam Alkitab tidak pernah terjadi dan harus dipahami sebagai sesuatu yang nonsupranatural.&lt;br /&gt;        Sebagai pengganti istilah "otoritas" yang dikenakan saat kita membaca Alkitab, diganti dengan istilah "secara kritis". Istilah itu juga dipakai untuk mengevaluasi kebudayaan dan keadaan orang-orang kuno di dalam Alkitab, menurut pendekatan kaum modernis, apa yang dikatakan di dalam Alkitab janganlah semuanya dianggap benar (is not necessarily true). Maka, para teolog liberal meletakkan keyakinan mereka pada kebenaran tanpa bukti - sekadar dugaan (alleged truth) - terhadap Alkitab sebagaimana yang telah ditemukan oleh para kritikus Alkitab. Mereka menyelimuti diri mereka dengan jubah-jubah yang tidak pernah salah daripada siantis-rasionalis modern.&lt;br /&gt;        Para kaum liberal menciptakan teologi mereka untuk menyesuaikan pemikiran dan kebudayaan modern. Mereka memalingkan gereja dari ketekunan iman mereka agar gereja memiliki perhatian terhadap masalah-masalah sosial. Perhatian-perhatian tradisional dari gereja terhadap pekerjaan-pekerjaan baik berubah menjadi kegiatan politik, yang merupakan utopia (pengharapan - khayalan) para kaum modernis. Perhatian gereja terhadap hal-hal yang rohani berubah menjadi hal-hal psikologis, hal yang sama dengan cita-cita para "ahli ilmu sosial" sekuler. Gereja-gereja menjadi sponsor pada kelompok-kelompok tertentu, dan hamba Tuhan menjadi konselor domba-dombanya untuk menemukan diri mereka (self realization) yang sebenarnya.&lt;br /&gt;        Saat ini kerinduan para politikus utopis dan para psikolog yang naif dari kelompok teologi liberal - yang masih mendominasi banyak seminari - nampaknya tidak menjadi realita. Jauh dari harapan manusia modern, gereja-gereja liberal dalam soal keanggotaan sudah rontok. Jika kaum liberal benar, tentunya mereka tidak membutuhkan gereja. Jika Alkitab hanya mitos, maka kita sesungguhnya tidak perlu diselamatkan, sebagaimana yang seringkali dikhotbahkan kaum liberal. Mengapa tidak tidur saja pada Minggu pagi? Ironisnya gereja-gereja konservatif dan fundamentalis semakin bertumbuh dengan iman yang murni yang ditolak oleh gereja-gereja modernis.&lt;br /&gt;        Sudah tentu, orang modern - kaum liberal - mencoba untuk tidak terlalu kentara. Ini adalah bentuk kemanusiaan (humanity) yang baru, yang sangat ilmiah, sangat rasional, sebagai proyeksi dari filsafat modern, satu mitos yang diciptakan oleh segelintir kaum intelektualis yang ingin memaksakan filsafat ilmu dan filsafat rasio kepada seluruh umat manusia. Manusia biasa menghadapi keterbatasannya dan sadar akan dosa-dosanya, dan banyak dari mereka yang menemukan iman di dalam Firman Allah.&lt;br /&gt;        Teologi liberal menyia-nyiakan warisan kristiani dengan usaha yang sia-sia agar memperoleh penghargaan dari kaum intelektualitas modernis. Setelah beberapa waktu, kaum modernis dengan keyakinan yang berlebihan dan kegagalan-kegagalan manifesto mereka, akhirnya menjadi bahan cemoohan. Kejatuhan modernisme juga menyeret kejatuhan teologi liberal. Untuk hal itu, kita dapat bersyukur selamanya.&lt;br /&gt;        Era postmodern juga memegang janji-janji bagi orang-orang yang percaya kepada Alkitab. Hal itu mendatangkan resiko-resiko yang baru dan berbahaya. Kaum modernis yang menyesatkan sudah menggelepar-gelepar, tetapi sekarang, kaum postmodernis sudah menggantikan tempat mereka. Rasionalisme sudah gagal, tetapi sekarang terbuka jalan kepada irrasionalisme - keduanya merupakan musuh dari penyataan Allah, walaupun dengan metoda yang berbeda. Kaum modernis tidak percaya bahwa Alkitab adalah kebenaran. Kaum postmodernis bahkan sudah membuang semua katagori-katagori kebenaran. Dengan berbuat demikian, mereka membuka peluang kepada agama-agama New Age, sinkritisme, dan kekacauan moral.&lt;br /&gt;        Gereja-gereja fundamentalis akan dengan gampang menyebut diri mereka sebagai musuh kaum modernis - garis perang sudah diukir. Pada masa ini permasalahan sudah lebih kompleks dan membahayakan. Tragisnya, kerangka pikir (mind-set) mereka memperoleh tempat berpijak di dalam gereja-gereja injili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran atau Keinginan&lt;br /&gt;        Untuk mengulang, postmodernisme memiliki asumsi bahwa tidak ada kebenaran obyektif, bahwa nilai-nilai moral adalah relatif, dan realita secara sosial dibentuk oleh kumpulan komunitas yang berbeda-beda. Keyakinan ini secara sadar membuang agama, sebagaimana yang dikehendaki oleh kaum modernis. Perlu disadari bahwa agama-agama dan teologi-teologi yang dikumandangkan kaum postmodernis sangat berbeda dari yang dikumandangkan oleh kekristenan ortodox dan kelompok modernisme.&lt;br /&gt;        Sebelum era modern dan pra-modern, ruang lingkup agama termasuk percaya tentang apa yang nyata (real). Misalnya, ada Allah atau tidak ada Allah. Atau Yesus adalah inkarnasi Putra Allah, atau hanya manusia semata. Mujizat terjadi atau tidak sama sekali. Beberapa orang Kristen dengan bersemangat di dalam ketidaksepakatan berdebat: Adakah tempat seperti purgatori? Adalah Maria berdoa syafaat bagi kita di surga? Adakah sebagian orang yang sudah ditetapkan untuk dibinasakan? Tetapi semua ketidaksepakatan ini melampaui fakta-fakta. Agama pada saat ini tidak dilihat sebagai satu paket keyakinan tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata. Melainkan agama hanya dilihat sebagai sebuah preferensi, sebuah pilihan semata (lihat Walter Truett Anderson, Reality Isn't What is Used to Be: Theatrical Politics, ready-to-Wear Religion, Global Myths, Primitive Chic, and Other Wonders of the Postmodern World. San Fransisco: Harper &amp;amp; Row, 1990, Hal. 7-9). Kita percaya akan apa yang kita sukai. Kita percaya kepada apa yang ingin kita percayai.&lt;br /&gt;        Di mana tidak ada kebenaran absolut, maka intelek mengorbankan atau membuang kehendak. Kriteria estetika akan menggantikan kriteria rasio. Dengarkanlah kepada cara-cara orang berdiskusi tentang agama pada masa kini. "Saya sungguh menyukai gereja itu," mereka katakan. Setuju dengan gereja itu atau percaya dengan apa yang diajarkan dalam gereja itu jarang sekali menjadi bagian dari diskusi itu. Orang-orang mendiskusikan ajaran-ajaran iman di dalam istilah-istilah yang sama juga. "Saya sungguh-sungguh suka dengan ayat Alkitab yang mengatakan, 'Allah adalah kasih.'" Banyak hal-hal yang mirip dengan kekristenan - Kasih Allah kepada kita, Kristus memikul dosa kita, kemurahan dan pertolongan-Nya.&lt;br /&gt;        Tetapi, segera kita akan mulai mendengar tentang hal-hal apa yang tidak mereka sukai. "Saya tidak suka ide tentang neraka." Hal ini sesungguhnya respon yang wajar karena tidak ada seorangpun yang menyukai neraka. Tetapi rasa benci kita kepada doktrin ini sesungguhnya menyingkirkan poin utamanya. Masalahnya, bukanlah kita suka atau tidak suka, tetapi apakah tempat itu memang benar-benar ada.&lt;br /&gt;        Untuk menetapkan ada atau tidak tempat yang mengerikan itu, maka hal itu melampaui maut -- kuburan. Dan untuk tahu bagaimana kita dapat dilepaskan dari tempat itu, seorang Kristen harus kembali kepada sumber segala sesuatu, yang melaluinya kita tahu hal-hal rohani, yaitu dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Orang Kristen seharusnya curiga kepada pengajaran teologi yang mengindarkan diri dari doktrin ini. Iman seperti itu tidak lebih dari sekadar fantasi-fantasi yang menyesatkan.&lt;br /&gt;        Pada masa kini, bahkan pelayanan kaum konservatif dan Injili pun jarang menyinggung tentang neraka. Yang pasti, "Orang-orang tidak akan suka mendengar tentang itu, dan kami tidak mau menakut-nakuti mereka", kata mereka. Orang tidak pernah suka mendengar tentang neraka. Perbedaan masa kini dengan masa lampau adalah, bahwa banyak orang masa kini tidak mau percaya (jika percaya adalah satu fungsi dari kehendak) apa yang tidak ingin mereka nikmati (jika pertimbangan-pertimbangan keindahan menentukan fakta-fakta).&lt;br /&gt;        Perbedaan yang menyeluruh tentang cara berpikir tentang agama -- yaitu yang tidak berbicara masalah apakah kebenaran, tetapi apa yang diinginkan atau dikehendaki seseorang -- menjelaskan mengapa bidat-bidat seperti ini lebih banyak mendominasi kaum intelektual dan berpendidikan. Contohnya, Gereja Scientology, yang mengajarkan bahwa makhluk asing datang dari luar angkasa jutaan tahun yang lalu dan mengakibatkan perang angkasa. Makhluk-makhluk asing ini mempengaruhi kita, dalam kehidupan kita masa lampau. Kita akan dapat memecahkan masalah kita dengan menghubungkannya ke satu kotak elektronik. Sementara itu, melalui konseling oleh seorang scientolog, ia dapat mengangkat "engrams" negatif yang terakumulasi dalam hidup kita di masa lampau. Setelah itu kita akan menjadi makhluk-makhluk rohani yang bersih.&lt;br /&gt;        Manusia yang menganggap diri mereka sebagai orang yang begitu canggih sehingga tidak percaya kepada Injil Yohanes, dapat percaya kepada hal-hal yang seperti ini? Scientology, terdiri dari orang-orang yang berjaya dalam bisnis, para bintang film yang sukses, dan kaum profesional-intelektual muda. Dalam semua khotbah-khotbah mereka, mereka tidak memberikan bukti-bukti yang real tentang keberadaan makhluk-makhluk asing itu dan apa yang dimaksud dengan kehidupan masa lamapu. Scientolog mungkin menolak kemungkinan pernyataan dari Allah, tetapi mereka sungguh-sungguh menerima apa yang disebut sebagai penyataan dari pendiri mereka, L. Ron Hubbart. Ironis bukan?&lt;br /&gt;        Tetapi agama-agama postmodern tidak membutuhkan bukti-bukti atau hal-hal yang masuk akal. Hubbart sebelumnya adalah seorang novelis sains fiktif yang berhasil. Banyak orang yang menikmati apa yang digambarkannya dalam novelnya tentang makhluk-makhluk asing dan peperangan-peperangan luar angkasa. Bukankah hal ini akan menjadi lebih baik bila hal ini adalah sungguhan? Doktrin-doktrin scientology sangat menarik, merangsang imajinasi, bahkan menyenangkan. Mengapa kita tidak memilih mereka?&lt;br /&gt;        Katakanlah kepada seorang penganut bidat apa saja, dan perhatikan bagaimana ia akan menggambarkan dan nilai ajaran mereka itu dengan begitu subjectif dan dengan istilah-istilah yang menyenangkan (pleasured -- oriented terms): Maharishi sungguh-sungguh sejuk. "Meditasi transendental memberikan saya satu puncak alamiah (a natural high)." "Pendeta Moon membuat saya lebih baik tentang diri saya." Menyukai sesuatu dan menginginkan sesuatu untuk menjadi benar adalah satu-satunya kriteria kepercayaan mereka.&lt;br /&gt;        Orang-orang Kristen harus menjelaskan popularitas bidat-bidat ini dengan lebih tegas, bahwa sesungguhnya pengikut-pengikut mereka telah dipikat oleh setan.Kita harus sadar bahwa setan akan menggoda kita dengan cara mengorek keinginan hari kita. Setan menipu kita dengan menjanjikan tepat seperti apa yang kita inginkan dan dambakan. (Sudah tentu, dengan ironi-setan, yaitu apa yang ia berikan adalah sesungguhnya apa yang tidak kita sukai, adalah neraka itu sendiri.) Di dalam terang "keinginan tubuh yang berdosa" (Rm. 13:14), maka kita tidak berani meletakkan keinginan-keinginan kita sebagai otoritas rohani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moralitas atau Keinginan&lt;br /&gt;        Bagi kaum postmodernis, moralitas, seperti agama, adalah suatu masalah keinginan (desire). Apa yang saya inginkan dan apa yang saya pilih tidak hanya benar -- true (bagi saya) tetapi juga tepat -- right (bagi saya). Menurut mereka, orang yang berbeda akan memilih hal-hal yang berbeda pula, maksudnya adalah bahwa kebenaran dan moralitas adalah relatif, tetapi "saya punya hak akan apa yang saya inginkan". Sebaliknya, "tidak seorang pun yang punya hak" untuk mengkritik apa yang saya inginkan dan saya pilih.&lt;br /&gt;        Walaupun kaum postmodernis cenderung untuk menolak nilai-nilai moralitas tradisional, mereka dapat menjadi orang yang sangat moralistik. Mereka akan mempertahankan hak mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan dengan semangat puritan (kelompok saleh abad pertengahan). Selanjutnya mereka akan menganggap bahwa mereka punya hak untuk tidak dikritik oleh siapapun atas apa yang mereka lakukan. Yang mereka inginkan atas pilihan mereka tidak hanya lisensi (surat izin) tetapi juga persetujuan.&lt;br /&gt;        Oleh sebab itu toleransi menjadi satu kebaikan yang terpuji dan tertinggi. Di bawah filsafat postmodernisme, prinsip kepelbagaian kebudayaan artinya adalah bahwa setiap cara berpikir satu kelompok tertentu adalah menyatakan satu kebudayaan tertentu yang harus dipertimbangkan sebagai hal yang baik sebagaimana dengan kebudayaan lainnya. Dosa kaum postmodernis adalah "menghakimi" (being judgemental), "pemikiran yang sempit, picik" (being narrow-minded), "menganggap bahwa hanya ia yang memiliki kebenaran", dan "berusaha untuk memaksakan nilai-nilainya kepada orang lain." Mereka yang meragukan dogma postmodernis yaitu "tidak ada yang mutlak" akan dikeluarkan dari semangat toleransi mereka. Satu-satunya ide yang salah adalah percaya kepada kebenaran; satu-satunya dosa adalah percaya adanya dosa. Filsafat "moralitas keinginan" (the morality of desire) telah menghancurkan makna seksualitas. Pil Keluarga Berencana telah memisahkan seks dengan reproduksi. Segera, seks akan terpisah dari pernikahan. Pria dan wanita sekrang sudah terbiasa hidup bersama di luar nikah. Wanita yang ingin memiliki seorang anak tidak perlu memiliki suami. Revolusi seksual menghancurkan ikatan keluarga. Masyarakat saat ini memandang pemenuhan keinginan seksual sebagai hak setiap individu di mana orang lain tidak berhak untuk melarangnya.&lt;br /&gt;        Sekarang, wabah AIDS, yang menghancurkan fungsi kekebalan tubuh, menentang kebebasan seksual itu sendiri. AIDS segera menjadi penyakit era postmodern, tidak hanya karena merupakan penyakit sadis yang menghancurkan diri sendiri, tetapi juga karena hak itu disahkan pada era 60'an (revolusi seksual, hak-hak kaum homo, dan penyalahgunaan obat bius). Sementara orang berbalik kepada moralitas seksual yang lain, yang tidak hanya merusakkan hubungan keluarga tetapi juga harkat manusia itu sendiri. Pornographi, telepon seks, dan teknologi yang menjanjikan 'kebaikan-kebaikan seks' -- yang mana orang-orang akan sanggup mengikatkan diri mereka ke dalam ikatan 3D fantasi seksual (lihat Philip Elmer - Dewit, "Cyberpunk!" Time, 8 Februari 1993, hal. 59-65) -- sangat mengancam nilai seksual menjadi tidak manusiawi (dehumanization of sexuality). Walaupun semua konsekuensi di atas jelas, namun manusia masa kini tetap ngotot dengan etika keinginan nafsu mereka (the ethic of desire).&lt;br /&gt;        Moralitas postmodernis memiliki ajaran yang menarik -- yaitu konsep tentang tanggung jawab secara kolektif (kelompok) dan rasa bersalah yang kolektif. Sebagai kelompok yang menekankan oritentasi kelompok, maka idiologi cenderung mengecilkan nilai individu, hal ini juga akan mengecilkan tanggung jawab individu. Jika suatu kebudayaan membentuk suatu individu, maka kebudayaan itu akan bertanggung-jawab terhadap perilaku individu tersebut. Sebagai akibatnya adalah bahwa kesalahan tidak dapat dikenakan kepada individu, melainkan kepada kebudayaan. Status moral seseorang tidak ditentukan oleh tindakan seseorang, melainkan oleh keanggotaan seseorang di dalam kelompok tertentu. Seorang muda kulit putih akan merasa bersalah jika orang-orang kulit putih melecehkan orang kulit berwarna, walaupun itu sudah terjadi berabad-abad yang lalu di mana kaum lelaki menindas kaum wanita. Mungkin ia tidak pernah memiliki seorang budak, budak Indian, atau tidak pernah melecehkan wanita, namun ia harus merasa berdosa akan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangnya pada masa silam. Untuk menebus kesalahan itu, maka ia mungkin akan terjun dalam kancah politik liberal atau radikal. Dalam pada itu, pemerintah dan usahawan melakukan program-program untuk menggantikan "ketidakadilan dalam sejarah", sebagai kompensasi terhadap korban-korban pelecehan pada masa lampau, dengan memberikannya kepada keturunan mereka masa kini, yang mungkin mereka pun sudah tidak lagi mengalami ketidakadilan.&lt;br /&gt;        Sudah tentu, bahwa konsep tentang dosa kolektif membutuhkan standar moral yang objectif. Sebut saja "keadilan" tentu membutuhkan standar benar atau salah, akan apa yang selayaknya diterima oleh setiap orang. C.S. Lewis berkata bahwa walaupun manusia menyangkal nilai kebenaran, tetapi orang seperti inipun bereaksi saat seseorang mengambil tempat duduk mereka di bus, atau saat mereka diperlakukan secara tidak adil (C.S. Lewis, Mere Christianity, New York: Macmillan, 1960, hal. 17-20).&lt;br /&gt;        Dengan jujur, kaum postmodernis mengakui dilema konsep "keadilan" di atas, namun sementara itu mereka menolak adanya nilai moral yang mutlak (Steven Connor, Postmodernist Culture: An Introduction To Theories Of The Contempory. Oxford: Basil Blackwell, 1989, hal. 242-243) memperingatkan orang-orang yang meremehkan akibat dari konsep bebas nilai dan moralitas yang dilakukan oleh kaum postmodernis. Hal ini tidak boleh dipandang secara sederhana dengan menganggap kesinambungan dari nilai-nilai dan moralitas itu akan tetap eksis secara natural di dalam pemikiran postmodern yang secara otomatis akan sepakat pada konsep nilai dan konsep moralitas itu.&lt;br /&gt;        Ia menunjukkan kontradiksi bahwa sementara kaum postmodernis menyangkal kemutlakan nilai moral di dunia barat, sementara itu terjadi perjuangan nilai-nilai moral di belahan dunia ketiga. Connor tidak memberikan solusi atas dilema ini. Ia mengakhiri bukunya dengan mengajak pembaca untuk menciptakan "satu bentuk etika kolektif yang baru dan yang lebih inklusif", yaitu "penciptaan sebuah kerangka kesepakatan bersama" (the creation of a common frame of assent). Tetapi untuk melakukan hal itu kita harus membiarkan semua asumsi-asumsi dasar dari pengajaran postmodernisme.&lt;br /&gt;        Satu-satunya keadaan yang konsisten bagi kaum postmodernis adalah bahwa semua pembicaraan tentang moralitas termasuk yang mereka anut, hanya merupakan topeng-topeng dari kehendak untuk berkuasa (masks the will to power). Sebut saja, keadilan, pembebasan (liberation), dan akhir dari penindasan, bisa menjadi sekadar tipu muslihat retoris. Kelompok-kelompok yang kekurangan kuasa harus merampas hal ini melalui cara apa saja dan menggunakannya melawan penindas. Bahwa yang kemudian akhirnya menjadi korban hanyalah ketepatan. Latihan yang sebenarnya tentang kekuasaan (tidak bisa dibatasi oleh batasan-batasan moral), adalah sebuah rumusan utama bagi para teroris dan juga bagi para penganut totalitariannisme (pemerintah yang sewenang-wenang).&lt;br /&gt;        Pada tingkatan politik dan individu, etika keinginan / nafsu (ethic of desire) ini sama dengan kehendak (the will - apa yang saya pilih) untuk berkuasa (to power - apa yang saya inginkan). Secara politis, etika keinginan adalah perjuangan kekuasaan di antara berbagai kelompok yang bersaing. Di Amerika Serikat, hal ini nyata dalam pencarian kaum feminist, yang memenjarakan para demonstrator yang berjuang untuk kehidupan (pro-life demonstrator), kaum gay yang suka membuat kerusuhan di dalam kebaktian di gereja, dan teroris yang terang-terangan. Di dalam kekuasaan Soviet yang terdahulu, hal ini nyata di dalam perang sipil dan pembersihan / pemusnahan etnis tertentu. Diterapkan secara individu, maka etika keinginan maksudnya adalah keegoisan, kebebasan seksual, dan kebebasan moral. "Saya harus memiliki kuasa untuk melakukan apa yang saya inginkan, dan engkau tidak mempunyai kuasa untuk menghentikan saya".  Tanpa kerangka moral yang jelas, maka masyarakat akan terpecah-pecah dalam konflik antar golongan / faksi dan menghancurkan nilai individu itu sendiri. Akibatnya adalah banyaknya kejahatan, pelecehan seksual, dan anarki seperti yang digambarkan dalam kitab Hakim-Hakim, bahwa satu waktu terjadi kerusuhan moral pada bangsa Israel dan hal itu tepat seperti apa yang dimaksud dengan teori etika dari kaum reformasi: "Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri" (Hak. 21:25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama-agama Baru&lt;br /&gt;        Sementara kaum modernis bersama menghapuskan agama / kepercayaan, maka kaum postmodernis menelurkan yang baru. Tanpa memaksakan objektivitas, tradisi, akal atau moralitas, iman jenis baru ini, berbeda secara radikal dengan kekristenan. Bila ditelusuri, maka jenis ini sebenarnya sudah ada dalam bentuk penyembahan berhala (paganism) model primitif yang sangat kuno.&lt;br /&gt;        Kelompok-kelompok ini bisa dibandingkan dengan praktek-praktek "negative theology" pada abad pertengahan, yang menolak untuk mengatakan apakah Allah itu, tetapi menonjolkan bahwa Allah itu tidak seperti...Lebih tepat lagi, mereka adalah seperti pendeta-pendeta Zen Budisme yang merendahkan rasionalitas, melenyapkan semua perbedaan untuk memperoleh pencerahan Nirwana, satu tempat kehampaan (the state of cosmic nothingness). Perusakan itu nyata di setiap pernyataan yang positif, setiap argumen yang rasional, setiap klaim kebenaran. Bagaimana akibatnya, melampaui yang kita bayangkan. Ketidakmampuan bahasa akan tertinggal di belakang, dan rasa keterasingan dari individu akan coba disembuhkan dengan cara rekonsiliasi secara mistis dengan alam (a mystical reconsiliation of nature), dengan cara psikologi dan kebudayaan (Steven Connor, hal. 212). Kaum postmodernis dengan sangat naif berasumsi sebagai yang terbaik, menghapuskan doktrin dosa asal, yang memperkirakan bahwa dengan menghancurkan semua itu mereka akan melepaskan iblis yang menakut-nakuti mereka.&lt;br /&gt;        Postmodernis, dalam hal penolakan mereka akan kebenaran yang objektif, memiliki kesamaan dengan Hinduisme dan Buddisme, yang mengajarkan bahwa dunia luar (external world) hanyalah sebuah ilusi dari pikiran manusia. Agama-agama timur juga memberikan dasar bagi perkembangan aliran spiritualisme. Sebagaimana yang disebutkan oleh seorang tokoh postmodernis Walter Truett Anderson: "Desakan atas reaksi postmodern dari keyakinan-keyakinan yang lama telah menyapu sebagian orang untuk masuk ke dalam paham yang bahkan lebih radikal dari kaum konstruktivis". Banyak suara yang saat ini kita dengar yang mengatakan bahwa apa yang berada di sana adalah karena kita sendiri yang meletakkannya di sana. Lebih tepatnya, apa yang saya letakkan di sana -- hanya si aku yang kecil, saya membentuk dunia saya sendiri di sana. Dulu kita menyebut hal ini sebagai solipsisme: sekarang kita menyebutnya sebagai spiritualitas Zaman Baru.&lt;br /&gt;        Agama-agama Zaman Baru, dengan semua jebakan-jebakan paganismenya, memiliki ide yang sama, bahwa diri (self) adalah bersifat ilahi, bahwa engkau adalah Allah, sebagai pencipta alam semestamu. Setua waktu ular itu menipu Hawa (Kej. 3:5), ide ini sekarang muncul di banyak buku tentang menolong diri sendiri (self help books), traktat-traktat motivasi diri (motivation tracts) dan dalam psikologi populer ("Engkau membentuk realitasmu sendiri").&lt;br /&gt;        Gerakan Zaman Baru, seperti postmodernisme, hadir dengan beragam bentuk, tetapi dengan satu tema. Guru Zaman Baru mungkin saja seorang perantara (channeler) dari prajurit perang zaman Mesir kuno, atau mungkin juga dalam bentuk-bentuk supranatural lain. Mereka mungkin saja mengajarkan manfaat bola kristal atau mempromosikan obat-obatan alami. Mereka bisa juga melakukan riset ilmiah yang semu yang melampaui indera kita, atau mungkin juga melakukan praktek meditasi model Tibet. Untuk semua perbedaan-perbedaan itu, mereka akan mengatakan satu pengajaran --dogma-- bahwa diri kita sendiri adalaaah allah. Bahwa seluruh alam semesta adalah ilusi dan kebenaran adalah relatif.&lt;br /&gt;        Agama-agama Zaman Baru, tentu sedikit lebih luas dari apa yang kita sebut dengan kebangkitan peganisme tua / lama (old paganism). Bersamaan dengan mundurnya kekristenan, agama-agama alam yang primitif muncul menggerogoti. Hal ini, tentu saja sesuai dengan imajinasi masa kini. Kaum feminis, dalam reaksi mereka melawan kekristenan, mencoba untuk membangkitkan paham penyembahan kepada "Allah Ibu" (the gooddes-worship).&lt;br /&gt;        Kaum Environmentalis menekankan bagaimana semua planet ini adalah menyatakan ekosistem yang interdependensi tunggal (a single interdependent ecosystem). Hal ini menggambarkan bahwa kita sebagai individu adalah sebuah sel dari organisme yang lebih besar, satu keberadaan yang hidup yang disembah sebagai Ibu Bumi (Mother Earth), Allah Ibu, yaitu Gaia.&lt;br /&gt;        Iman kaum paganisme, paling tidak di dalam bentuk modern sangat permissif dalam hal moralitas. Pekerja komputer, Cyberpunk, dikembangkan dengan apa yang mereka sebut sebagai "techno erotic paganism", menggunakan modem mereka untuk masuk ke dalam realita elektronik "cyberspace". Melalui jaringan komputer yang saling berhubungan dengan komunikasi global, maka mereka dapat memasukkan percakapan-percakapan teologis dan membuka e-mail pornographi (Elmer - Dewitt, Cyberpunk!, hal. 64).&lt;br /&gt;        Agama-agama baru selalu berkaitan dengan pemberontakan moral. Kebangkitan penyembahan Allah Ibu dapat dihubungkan dengan bangkitnya homoseksualitas dan feminisme. Para ahli sudah menunjukkan bagaimana pada zaman dulu homoseksual selalu dihubungkan dengan penyembahan Allah Ibu (Daniel F. Grennberg, The Construction of Homosexuality. Chicago: University of Chicago Press, 1988). Banyak agama-agama kuno yang juga mempraktekkan pengorbanan bayi (infanticide). Benar atau tidak, aborsi adalah satu bentuk penyembahan kepada dewa Molokh.&lt;br /&gt;        Agama-agama yang sekarang muncul tidak saja bentuk bagian zaman dulu, tetapi lebih kepada bentuk sinkritisme cangkokan (sincritism hybrid). Di dalam sebuah dunia postmodern dan dunia konsumeristik seperti ini, yang mana kebenaran adalah relatif, maka orang-orang akan mengambil aspek-aspek tertentu dari berbagai agama, sebagaimana yang mereka sukai. George Barna meramalkan bahwa "terpaku dengan keinginan mereka sendiri, maka anak-anak muda tidak akan tertarik lagi dengan dasar-dasar yang penting dari kekristenan. Mereka akan menggantikannya dengan mencari sendiri kebenaran dan tujuan hidup mereka, mereka akan menjadi sinkritis." (The Fong in the Kettle: What Christian Need to Know About Life in the Year 2000. Ventura, CA: Regal Books, 1990).&lt;br /&gt;        Kekristenan yang alkitabiah akan menemukan diri mereka tepat pada posisi iman Israel kuno dan gereja mula-mula -- tetap berpegang teguh pada iman mereka walaupun dikelilingi oleh paganisme. Mereka juga akan menemukan pencobaan yang sama. Banyak orang-orang Kristen yang jatuh dalam sinkritisme. Banyak orang dari gereja mula-mula jatuh menjadi kelompok bidat karena mereka mencoba menggabungkan kekristenan dengan filsafat Gnostik dan bidat Manicheisme. Tekanan-tekanan untuk mempraktekkan apa yang dilakukan oleh kaum pagan, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka seringkali begitu kuat. Tetapi firman Allah begitu jelas:&lt;br /&gt;"maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka  dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Akupun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya" (Ul. 12:30-32, TB-LAI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan-Pilihan Masyarakat&lt;br /&gt;        Dapatkah suatu masyarakat bertahan hidup tanpa sebuah konsensus moral dan religi? Masyarakat akan terpecah-pecah menjadi beberapa faksi yang saling bertikai, kurang memiliki kerangka acuan yang kuat, maka masyarakat seperti ini tidak stabil. Masyarakat yang terpecah-pecah pada akhirnya akan berusaha untuk menyatukan diri kembali dengan cara yang berbeda-beda. Saat ini, di era postmodernisme, kita berapada pada fase perusakan, di mana tidak hanya nilai-nilai tradisional yang dirusak tetapi juga nilai-nilai masa kini. Apa yang bakalan terjadi adalah pada saat bagian-bagian masyarakat disatukan kembali dalam bentuk (design) yang baru, maka keterpisahan itu tetap tampak. Pada masa ini, banyak kelihatan tanda-tanda agama-agama sekular jenis yang baru yang memunculkan masyarakat jenis yang baru. Sir Arnold Toynbee, dalam analisanya tentang peradaban dunia, telah menegaskan bahwa masyarakat yang berhasil memiliki beberapa macam konsensus religi. Saat konsensus ini hilang, object penyembahan yang baru akan mendesak masuk ke dalam kerohanian yang sudah vakum. Menurut Toynbee, saat satu masyarakat kehilangan imannya yang transendental, maka akan mengarah ke salah satu dari tiga hal ini (istilah yang biasa dipakainya untuk gejala ini adalah pengilahian - idolatries), yaitu nasionalisme, ekumenikalisme, dan teknikalisme.&lt;br /&gt;        Pada alternatif yang pertama, yaitu nasionalisme, maka iman transenden akan memberikan jalan kepada "pengilahian komunitas yang berhubungan dengan agama" (deified parochial communities) (Arnold Toynbee, An Historian's Approach Religion. New York: Oxford University Press, 1956, hal. 211). Di dalam model seperti ini, maka masing-masing kelompok kecil akan mengklaim diri mereka sebagai yang ilahi. Kebudayaan dan sub kebudayaan akan mengilahkan diri sendiri. Komunitas akan menjadi sumber nilai-nilai moral, yang berlaku hanya bagi anggota komunita tersebut. Orang-orang luar di mana hukum moral itu tidak berlaku akan dianggap musuh. Toynbee menunjukkan bagaimana hal ini terjadi dalam zaman Athena dan Sparta kuno; dalam zaman kebangkitan pencerahan nasionalisme setelah konsensus abad pertengahan runtuh; dan juga pada masa fasisme Mussolini dan Sosialisme Nasional yang diciptakan Hitler (Toynbee, hal. 211-215).&lt;br /&gt;        Model Toynbee merupakan nubuatan yang mengejutkan tentang masyarakat postmodernisme. Pada saat Eropa Timur kehilangan konsensus terhadap model Marxist, maka nasionalisme jenis baru muncul -- yaitu "pengilahian komunitas berbaaau agama". Hilangnya konsensus di Amerika Serikat telah mengakibatkan rasialisme dalam politik, kelompok-kelompok militan, dan kelompok-kelompok kebudayaan yang bersikap bermusuhan satu sama lain.&lt;br /&gt;        Alternatif kedua akibat hilangnya konsensus nilai-nilai transenden adalah "pengilahian kekuatan oikumenis" (deified ecumenical empire) (Toynbee, hal. 43-58). Model ini mengilahkan kesatuan sementara mereka tetap saja memiliki perbedaan yang mencolok. Pada saat Roma kehilangan agama turunan yang sifatnya lokal, dan berubah menjadi kekaisaran yang begitu luas, hal ini mengakibatkan penyembahan kepada kekaisaran. Kekaisaran sendiri, yang diwakili oleh kaisarnya, menjadi ilah. Roma menegaskan bahwa setiap orang di bawah kekuasannya harus memberikan korban bakaran dan persembahan kepada kaisar. Dalam kondisi seperti ini, Roma dapat toleran terhadap semua agama. Tetapi orang Kristen mengklaim bahwa hanya ada satu iman yang benar dan menolak untuk menyembah kaisar. Akibatnya adalah bahwa Roma mengeluarkan mereka dari masyarakat dan membunuh mereka. Sebaliknya, masyarakat akan terus bersama-sama mengilahkan diri mereka. Pengilahan kekaisaran Roma adalah semangat oikumenis, yaitu di seluruh kekuasaannya. Religi sifatnya adalah universal.&lt;br /&gt;        Kekaisaran Roma bukanlah satu-satunya masyarakat yang mencoba membentuk komunitas yang mengilahkan masyarakat oikumenis. Toynbee melihat model ini juga terdapat pada masyarakat Mesir, Sumer, Persia kuno, dan yang paling dekat dengan zaman kita, Dinasti Tiongkok, dan bahkan kerajaan Inggris terjebak dengan hal yang sama (Toynbee, hal. 43-58). Toynbee juga melihat spirit ini ada pada masanya, pada perang dunia kedua, di mana orang umumnya terpana dengan Amerika Serikat dan satu harapan agar dunia dapat memiliki pemerintahan tunggal.&lt;br /&gt;        "Kesatuan" sudah jelas adalah sebuah nilai kaum modernis. Pengilahian akan bentuk oikumenis mungkin merupakan sebuah fungsi pada masa modernisme belakangan ini. Ini mungkin merupakan respon terhadap kurangnya konsensus religi yang sudah dimulai pada zaman pencerahan dan mencapai puncaknya pada abad keduapuluh ini. Para teolog modernis mencoba menyatukan gereja-gereja dengan menghilangkan perbedaan keyakinan-keyakinan mereka. Hal ini mereka sebut sebagai gerakan oikumenis. Banyak gereja yang membuang nilai-nilai ortodoks.&lt;br /&gt;        Perhatian terhadap kesatuan mungkin merupakan satu nilai modernis, tetapi hal itu juga merupakan sebuah pilihan kaum postmodernis. Gerakan oikumene telah gagal menyatukan gereja-gereja, maka usaha mereka sekarang adalah untuk menyatukan semua agama di dunia ini. Hal ini berarti menghilangkan perbedaan-perbedaan keyakinan mereka demi menerima iman yang sama sekali baru dan asing bagi mereka. Para teolog ini menganut prinsip-prinsip relativisme dari postmodernisme agar mereka dapat merangkul semua kebudayaan dan agama. Hal ini mungkin menjadi tanda akan apa yang akan terjadi. Sesungguhnya, nilai "toleransi" adalah di atas segalanya, sebagaimana ditunjukkan oleh Toynbee, bahwa karakteristik komunita yang oikumenislah yang ditinggikan.&lt;br /&gt;        Walaupun postmodernisme lebih memilih kepelbagaian, environmentalis, teolog Zaman Baru, guru-guru bisnis, bintang-bintang film, dan pentolan-pentolan yang lain, mereka tetap menekankan "kesatuan global" (global unity). Kita semua bergantung kepada ekosistem tunggal. Kita semua adalah sel-sel yang berada di Gaia, yaitu organisme tunggal global (the single global organism) yang tidak lain adalah bumi sendiri. Kegiatan bisnis Amerika adalah satu bagian dari saling ketergantungan ekonomi global. (Kita adalah dunia). Isitlah "globalisasi" mungkin saja merupakan dengungan dari munculnya semangat oikumenis postmodernis. Istilah tersebut sepertinya memberikan ruang yang terbuka bagi relativisme kebudayaan dan kesatuan global.&lt;br /&gt;        Toynbee mengatakan bahwa akibat yang tidak terelakkan dari sikap penyembahan terhadap kesatuan (unity) adalah hilangnya kebebasan (liberty). Hak-hak individu pasti ditekan agar dapat memperoleh dan mempertahankan kesatuan. Toynbee melihat bahwa kehidupan modern secara khusus adalah salah satu contoh mengilahkan komunita. Negara menyatakan diri sebagai penyedia utama dari bahan makanan, pekerjaan, kesehatan, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap orang.&lt;br /&gt;        Visi merindukan sebuah negara yang maha kuasa dan penuh kebaikan masih tetap kedengaran di banyak negara Barat (khususnya di Amerika Serikat, yang belum mengalami sepenuhnya hal ini). Namun, kejatuhan komunisme di Uni Soviet, negara yang tingkat kesejahteraannya tinggi, negara yang meninggikan kekuasaan yang oikumenis, mungkin akan menilai pilihan ini usang.&lt;br /&gt;        Alternatif yang ketiga bagi keyakinan yang transenden, menurut Toynbee adalah "pengilahian ahli teknologi yang tak tersaingi" (idolation of the invincible technician) (Toynbee, hal. 220-238). Ini menelusuri, betapa teknologi sedang berkembang fungsinya mengambil fungsi suatu keyakinan atau agama. Atribusi ilahi tentang kemahatahuan dan kemahakuasaan sudah dikenakan kepada teknologi.&lt;br /&gt;        Sesungguhnya, sikap sains seperti itu adalah sikap kaum modernis, bukan kaum postmodernis, tetapi perhatian Toynbee tidaklah pada dampak pengetahuan sains dengan keunggulan tekniknya, dengan penguasaan atas alam dan gaya hidup yang segala sesuatunya dapat dimungkinkan oleh mesin. Postmodernis yang anti-intelektual (anti-intelectualism) mungkin saja lamban dalam mengejar pengetahuan sains, tetapi televisi, komputer, dan juga berbagai teknologi elektronik yang di luar imajinasi kita akan sangat mempengaruhi. Para ahli teknik akan menghasilkan produk-produk ini akan membentuk suatu bentuk yang baru dari keimaman (priesthood) dengan model pengetahuan-pengetahuan di luar jangkauan kaum awam -- yaitu orang-orang yang memahami teknologi sebagai sesuatu yang tidak bisa dipahami seluruhnya (incomprehensible) sebagaimana dengan hal-hal magis. Orang-orang mungkin saja sepenuhnya tidak akan tertarik lagi dengan sains objectif, tetapi mereka akan membangun kehidupan mereka dan konsep nilai mereka di seputar teknologi.&lt;br /&gt;        Toynbee kelihatannya sudah memprediksi apa yang sekarang digambarkan oleh Neil Postman, seperti pengambilalihan seluruh masyarakat modern -- suatu puncak dari "technopoly", yaitu suatu kondisi di mana teknologi membutuhkan satu bentuk monopoli atas seluruh kebudayaan.&lt;br /&gt;        Saat ini teknologi sedang memusatkan perhatiannya pada proses melampaui perhatiannya pada isi. Postman menegaskan hal ini mengakibatkan kebingungan moral dan spiritual yang akan mengubah seluruh kapasitas berpikir kita. Ia menuliskan, "Melalui satu bentuk pendidikan, di mana isi pendidikan itu sendiri tidak memiliki falsafah hidup yang bertalian satu sama lain secara logis, teknologi mencabut diri kita dari berbagai aspek sosial, politis, historis, metafisik, logis, dan rohani untuk mengetahui apa yang melampaui keyakinan." (Neil Postman, Technopoly: The Surrender of Culture to Technology, New York: Vintage Books, 1993).&lt;br /&gt;        Technopoly membutuhkan revisi yang terus-menerus agar upto-date. Hal ini bertentangan dengan tradisi (Neil Postman, hal. 185). Hal ini cocok dalam alam teknologi. Satu komputer yang baru kelihatannya akan lebih baik daripada yang lama. Tetapi, apa yang sah (valid) dalam satu keadaan tidak mesti sah pada keadaan yang lain. Walaupun tradisi-tradisi dalam semua kebudayaan, selalu melayani fungsi sosial (misalnya, menjaga nilai-nilai moral dan menciptakan lembaga keluarga yang stabil), namun teknologi membuang semua itu sebagai sampah.&lt;br /&gt;        Pada abad pertengahan, teologi skolastik secara tidak tepat mengaplikasikan metodologi teologinya ke dalam bidang yang di luar obyek pengetahuannya, misalnya, sains. Pada masa kini, kebalikannya yang terjadi. Manusia mengaplikasikan metodologi -- kerangka pikir -- teknologi ke dalam semua bidang, termasssuk teologi dan etika.&lt;br /&gt;        Sementara masyarakat modern semakin sekular, masyarakat postmodern menentukan fungsi religi kepada dirinya sendiri. Postmodenis menurunkan nilai teologi, moral, dan misteri manusia kepada hal-hal teknis. Postman menunjukkan betapa para ahli teknik telah menjadi imam-imam yang baru.&lt;br /&gt;        Di dalam teknologi, seluruh ahli dibekali dengan karisma keimaman (charisma of priestliness). Beberapa dari imam ahli (priest - experts) kita sebut sebagai psikiater, atau psikiolog, yang lain sosiolog, dan beberapa ahli statistik. Allah yang mereka sembah tidak berbicara tentang kebenaran atau kebaikan atau kemurahan atau anugerah. Allah mereka bicara tentang efisiensi, ketepatan (presisi), keobyektivitasan. Itu sebabnya mengapa konsep dosa dan kejahatan tidak muncul di dalam technopoly. Mereka datang dari satu moral semesta yang tidak relevan dengan para ahli teologi. Jadi, para ahli technopoly, menyebut dosa sebagai "deviasi / penyimpangan sosial," dalam konsep statistik, dan mereka akan menyebut kejahatan sebagai "psikopatologi," dalam konsep medis. Dosa dan kejahatan tidak muncul karena hal itu tidak bisa diukur dan dikenali (objectified), oleh sebab itu para ahli technopoly tidak perlu untuk membicarakannya (Postman, hal. 90). Manusia, perasaan-perasaan, ide-ide, dan nilai-nilai harus dinilai secara kuantitas (quantified). Kerangka pikir logika-teknis (techno-logical) harus mereduksi segala sesuatu ke dalam angka-angka.&lt;br /&gt;        Kita sedang berada di dalam abad statistik -- pemungutan suara, test-test standarisasi, dan semua instrumen penilaian yang mengukur segala sesuatu dari kualitas kerja kita sampai kepada kondisi psikologis kita. Kita mengevaluasi tidak dalam ukuran benar atau salah, tetapi melalui urutan angka dalam skala 1-10 point.&lt;br /&gt;        Simbol-simbol tradisi, seperti religi, bukan tidak diakui tetapi diremehkan. Statistik mereduksi kepercayaan menjadi pendapat-pendapat dan standar-standar moral yang ditentukan oleh seseorang. Reproduksi teknologi dan karya-karya visual yang representatif secara tidak henti-hentinya melawan semua konsep yang misteri atau yang kudus.&lt;br /&gt;        Konsep Alkitab tentang kudus artinya secara harafiah adalah "dipisahkan dari," namun teknologi membawa segala sesuatu -- seks, penderitaan, personalitas, dan kehidupan batiniah -- menjadi sesuatu yang profan, yaitu secara harafiah artinya "umum, biasa" (common).&lt;br /&gt;        Saat ini, tidaklah masalah bila media massa mengekspos besar-besar masalah seksual yang dulu merupakan hal yang rahasia dan pribadi; demikian juga dengan kejahatan, yang dulu dipandang sebagai yang mengerikan dan tersembunyi. Media visual masa kini akan memotret semua yang dapat dilihat. Apa yang tidak dapat dilihat -- yaitu Allah, iman, kebajikan, spiritualitas -- itu di luar perhatiannya dan diabaikan. Kalaupun tidak diabaikan, realita spiritual akan diperhatikan dalam pemahaman media masa kini. Sama saja dengan melecehkannya.&lt;br /&gt;        Pada waktu sebuah film mempertontonkan tentang Allah, maka Allah akan diperankan oleh George Burns (seorang bintang komedi), maka film itu menjadi film komedi. Simbol-simbol religi memang masih memiliki resonansi emotional yang kuat, tetapi semua itu tanpa memiliki arti referensi.&lt;br /&gt;        Simbol seks terakhir disebut-disebut adalah Madonna, dengan judul "Maria si perawan suci". Dia memamerkan salib sebagai bagian dari pakaiannya yang seksi dan gambar video uap yang menggambarkan patung seorang kudus / santo yang hidup kembali, dan kemudian mereka melakukan kegiatan seksual di gereja. Media seringkali mengulang ke-profan-an dan terus mengutuknya, tetapi sesaat kemudian hal itu menjadi terbiasa dengan hal itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Postman, simbol-simbol kesakralan itu menjadi kering dan kehilangan maknanya (Postman, hal. 164-180).&lt;br /&gt;        Di dalam masyarakat technopoly, mereka menyerukan "jangan membuat keputusan moral, cukup yang praktis-praktis sajalah." Karena mereka kekurangan ide-ide tentang baik dan jahat, mereka akhirnya terjatuh kembali kepada satu-satunya standar yang mereka miliki, yang dimiliki oleh teknologi: Asas Manfaat. Manusia mereduksi nilai hidup manusia di dalam skala kesehatan. Mereka membenarkan pembunuhan terhadap orang sakit, orang yang cacat, dan terhadap anak-anak di dalam kandungan orang-orang miskin. Mereka bertindak dengan alasan, bahwa jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat tidak ingin tetap hidup dengan pertolongan mesin; euthanasia akan menurunkan biaya rumah sakit; aborsi akan menjaga kesejahteraan keluarga (yang hidup).&lt;br /&gt;        Orang-orang pergi kepada para ahli untuk menyatakan dilema etika, mempercayakan keputusan hidup mati pada papan etika rumah sakit. Banyak orang yang memutuskan bunuh diri ingin supervisi seorang dokter.&lt;br /&gt;        Pada masa kini kita sedang berada ditengah-tengah sebuah transisi yang amat besar, jauh dari zaman pramodern dan zaman modern, masuk ke dalam air yang belum dipetakan. Apakah dunia yang tidak teratur ini akan bergerak ke arah "pengilahian kominitas berbagau agama" atau ke arah "pengilahian kekuasaan oikumenis" atau ke arah "pengilahian terhadap teknisi / profesional" kita tidak tahu.&lt;br /&gt;        Pada masa kini, kita melihat tanda-tanda dari ketiga ilah di atas -- pengelompokan identitas yang kental, globalisasi yang menekankan kesatuan, dan sebuah teknologi yang tidak bisa dikekang. Sudah tentu, ada satu pilihan lagi -- menguak kembali iman yang transendental.&lt;br /&gt;        Toynbee sependapat dengan surat yang diterimanya dari Edwin Bevan, yang menyadari hubungan antara anarki dengan tirani. Ramalan Bevan yang suram tentang dunia yang akan datang membahwa seberkas sinar pengharapan:&lt;br /&gt;        Anarki pada hakikatnya adalah lemah, dan di dalam dunia yang anarki, banyak organisasi yang kuat dengan organisasi yang rasional dan pengetahuan yang ilmiah akan menyebarkan kekuasaannya kepada yang sisa. Dan sebagai sebuah alternatif bagi anarki, dunia akan menyambut keadaan yang lalim...Tetapi di sana ada gereja...sebuah faktor yang harus dipertimbangkan. Mungkin kelak akan mengalami mati syahid, tetapi sebagaimana hal itu pada akhirnya telah mendesak kekaisaran Roma pada umumnya untuk tunduk kepada Kristus, mungkin saja peristiwa itu terulang kembali, melalui banyak mati syahid, mengalahkan kerajaan dunia yang akan datang untuk tunduk di bawah kaki Kristus (A Letter from Edwin Bevan, dikutip dalam Arnold J. Toynbee, A Study of History, London: Oxford University Press, 1984, 5:9-10).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-5891060483298546205?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/5891060483298546205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=5891060483298546205&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/5891060483298546205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/5891060483298546205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/03/postmodernisme.html' title='Postmodernisme...'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2915757540770183657.post-3628960995633768477</id><published>2008-03-03T19:27:00.003+07:00</published><updated>2008-04-11T17:14:51.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perubahan Sosial'/><title type='text'>Teori Hegemoni....</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Hegemoni : Kepemimpinan-Moral-Intelektual&lt;br /&gt;Definisi, Metode, dan Praktik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;in the generic manipulation of societies of control…&lt;br /&gt;there is no need to ask which is the toughest or most tolerable regime&lt;br /&gt;dalam manipulasi generik dari masyarakat terkontrol…&lt;br /&gt;tidak perlu lagi dipertanyakan, rezim manakah yang paling toleran&lt;br /&gt;(Delueze: Societies of Control)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum masuk ke dalam pengertian hegemoni sebagai modus eksistensi beberapa miskonsepsi atau salah sangka mengenai hegemoni sendiri harus dibenarkan. Pertama mengacu kepada peristilahan Antonio Gramsci tokoh sosialis Italia, pengertian hegemoni sebenarnya adalah praktik dominasi kekuatan pemerintah (state) terhadap publik (people/civic) dengan cara “halus”. Dalam praktek dominasi ini, kelas dominan tidak secara kentara menyusun aturan permainan, memaksa, mengajak atau mengontrol kelas terdominasi. Demikian pula kelas terdominasi yang tanpa sadar (unconciusness) dan tanpa paksa (unforceness) mengikuti permainan tadi. Adalah pengertian yang salah ketika menganggap hegemoni bekerja dengan cara represif saja, apalagi menganggap praktik hegemoni adalah perbuatan yang berkaitan dengan kejahatan belaka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonio Gramsci adalah sosiolog Italia, yang dikenal karena gagasan originalnya tentang praktik kekuasaan dalam ruang publik. Ketika Gramsci aktif dalam gerakan sosialis di tahun 1920-an menentang dominasi raja dan fasisme di Italia, ia banyak menelaah pemikiran dialektika sejarah dari Karl Marx tentang pertentangan kelas tertindas dengan penindas (proletarian-borjuis). Ketika Gramsci dipenjara karena kritiknya terhadap fasisme Mussolini, ia mulai menulis catatan harian ilmiah yang menerangkan bagaimana ramalan dan ide-ide besar Marx tentang revolusi kaum proletar ternyata tidak pernah terjadi. Gramsci menilai bahwa gerakan kaum Marxis pada suatu kondisi mengalah pada kekuatan dominan (borjuis). Penjinakan yang dilakukan kelompok dominan telah berhasil menangguhkan revolusi kelas bawah ini untuk segera meredup bahkan berhenti sama sekali. Ia menyebut praktik-praktik penjinakan tadi sebagai praktik hegemoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaahnya sebagai seorang ilmuwan sosial tidak sekedar lompatan kesimpulan bahwa revolusi menjadi batal, Gramsci membuat rincian metodologi, fakta-fakta mengenai relasi dan pembagian kekuasaan sosial. Ia sendiri turun berperang dan memberikan pandangan-pandangan ilmiah mengenai konflik-konflik seputar kekuasaaan. Kelak pemikirannya tentang hegemoni inilah yang membawa ilmu-ilmu sosial menjadi lebih kompleks dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, hegemoni muncul karena beberapa alasan sederhana. Bagi Gramsci alasan terpenuhinya akses atas ruang material (economic space) dan saluran berpendapat (political space) bagi kelas proletar adalah argumentasi mengapa revolusi kelas yang idamkan Marx tidak tercapai. Kelompok dominan (dominate class) berhasil melakukan tawaran ekonomis terhadap kelompok terdominasi (dominated class) dalam hal ini adalah kelas buruh, dengan memberi subtitusi waktu kerja lebih dengan nilai tambah (added value) dalam bentuk intensif, bonus-bonus, jaminan kesehatan, kredit, dan asuransi. Di sisi politik, kelas dominan memberikan ruang kebebasan berekspresi yang lebih luas, dan waktu untuk berserikat yang lebih luang. Kekuasaan dominan tadi lebih jauh membuka juga kebebasan berpolitik praktis dalam bentuk pendirian serikat-serikat kerja bahkan juga partai bagi kelas bawah (partai buruh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kenyataan dialog-dialog yang ditawarkan di dalam ruang ekonomi dan politik, Gramsci menemukan jika hegemoni kelompok dominan tidak selalu bekerja dengan cara mereduksi/mengekang keinginan-keinginan beroposisi dari kelompok bawah (grass root) dan penekan (pressure groups), namun juga dapat bersinergi dengan proses represif terhadap kelompok pembangkang (anti status quo). Akomodasi negara (state) dan pengusaha (capital) terhadap kelompok terdominasi ini dilakukan dalam kerangka praktik kekuasaan secara menyeluruh. Dalam hegemoni, proses reduksi dengan kekuatan dilakukan untuk menutup saluran perlawanan dari kelompok penekan, sementara akomodasi ditujukan kepada kelompok yang dapat diajak bernegosiasi untuk menciptakan aliansi-aliansi. Istilah ini dikenal dalam terminologi politik modern dengan istilah manajemen konflik belah bambu (stick and carrot policy). Sebagaimana tulisnya :&lt;br /&gt;A class dominant in two ways, i.e. ‘leading and dominant’.&lt;br /&gt;It leads the classes which are its allies, and dominates those which are its enemies.&lt;br /&gt;Satu kelompok mendominasi dalam dua cara. “Kepemimpinan dan dominansi”&lt;br /&gt;Ia menjadi pimpinan kelompok yang dianggap sekutu,&lt;br /&gt;dan mendominasi kepada mereka yang dianggap musuh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hegemoni cenderung bekerja dengan cara mencari dukungan yang legitimet dan legal dari kelompok mayoritas yang terdominasi melalui proses-proses yang “demokratis”. Penciptaan opini publik, pemilihan umum, parlemen, media massa, dan organ intelektual adalah bentuk-bentuk saluran untuk melegalisasi proses hegemoni melalui cara-cara yang “sah”. Dalam format seperti itu proses penghegemonian dari group dominan akan menampakkan wajah yang sangat adoptif terhadap segala isu-isu yang di arahkan kepada kekuasaan, dengan maksud menunjukkan bahwa kekuasaan mereka sangat ‘demokratis’. Kekuasaan tidak berwujud tirani melainkan mengakomodir segala&lt;br /&gt;Dimana legitimasi diperoleh melalui penciptaan opini, parlemen, dan legalisasi oleh kelompok inteletual-moral. Sebagaimana pembagiannya di atas, Gramsci menambahkan pokok intelektual-moral sebagai manifestasi kelompok supremasi. setiap orang dalam pandangannya tidak dapat tidak akan selalu mempraktikkan intelektualitas dalam setiap aktivitasnya.&lt;br /&gt;: that the supremacy of a social group manifest itself in two ways, as dominantion&lt;br /&gt;and as intellectual and moral leadership…dominates antagonistic groups,&lt;br /&gt;which it tends to liquidate, or to subjugate perhaps even by force.&lt;br /&gt;…bahwa kelas utama dari kelompok sosial mewujudkan dirinya dalam dua cara,&lt;br /&gt;dominasi, dan sebagai acuan kepemimpinan intelektual dan moral…&lt;br /&gt;dominasi terhadap kelompok perlawanan, ditujukan untuk membekukan,&lt;br /&gt;atau memilah dengan paksaan jika diperlukan&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Oleh karenanya setiap orang adalah intelektual organis bagi masyarakat dalam pandangan Gramsci, dengan sendirinya tidak ada intelektual yang dapat diam menghadapi realitas yang terjadi. Permasalahannya adalah dilema ketika intelektual harus memilih untuk turut serta dalam praktik peguasaan modal, politik, dan sosial atas kelompok minoritas dominan atau turut kepentingan kelompok mayoritas terdominasi. Sedemikian penting fungsi intelektual Gramsci mencatat;&lt;br /&gt;Critical self-consciousness means, historically and politicaly, the creation of an elite of intellectuals.&lt;br /&gt;A human mass does not distinguish itself, does not become independent in its own right&lt;br /&gt;without in the widest sosial sense, organising itself: and there is no organisation without intellectuals,&lt;br /&gt;that is without organisers and leaders…But the process of creating intellectuals is long and difficult,&lt;br /&gt;full of contradictions, advances and retreats, dispersal and regrouping,&lt;br /&gt;in which the loyalty of the masses is often sorely tried.&lt;br /&gt;Kesadaran kritis bermakna, bahwa masalah sejarah dan politik, adalah masalah membentuk kelompok elit intelektual.&lt;br /&gt;Suatu kelompok massa tidak dapat memilah dirinya untuk menjadi bebas tanpa kepekaan sosial yang luas untuk mengorganisasi diri, dan tidak ada organisasi tanpa kaum intelektual, organisator, serta pemimpin…Tetapi proses membentuk intelektual membutuhkan waktu panjang dan sulit, penuh kontradiksi, menantang atau berdamai, memecah atau menyatukan. Dimana (penciptaan) loyalitas massa sering meminta keseriusan yang tinggi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dalam pandangan Gramsci, hegemoni bukanlah praktik yang tidak dapat diciptakan kembali. Hegemoni tidak dapat dipandang sebagai prosedur pengontrolan massa dengan tujuan kekuasaan belaka. Ia dapat dilakukan untuk menarik dukungan dan menciptakan pengikut yang loyal dalam menjabarkan gagasan besar, moral dan intelektual dengan tujuan yang bermanfaat kepada masyarakat umum (kelompok yang dihegemoni). Sejujurnya bagi Gramsci praktik relasi kuasa akan selalu bertujuan mengambil alih kepemimpinan moral dan intelektual dengan segala cara dan kesulitan yang mendalam. Untuk itu menurutnya intelektualitas akan menjadi subjek yang penting dalam perubahan sosial. Dimana untuk melakukan perubahan sosial, masyarakat awam meniscayakan kebutuhannya akan sosok intelektual yang dapat terlibat di dalam perubahan itu sendiri. Ia menyebut intelektual yang mau bekerja untuk suatu perubahan sosial dengan istilah intelektual organik.&lt;br /&gt;Di lain waktu peran pembentukan intelektual organis sendiri akan menjadi dilema dan bagian dari proses hegemoni yang selalu menampilkan sisi tautologi (bertolak belakang). Di satu sisi intelektual adalah harapan masyarakat untuk perubahan, di sisi lain ia dapat berfungsi sebagai alat untuk mendominasi kekuasaan. Adalah Louis Althuser, Julian Benda, Michele Foucault, dan Edward Said yang mengembangkan kedudukan intelektual dan ilmu pengetahuan sebagai aparatur kekuasaan dalam bentuk teori-teori yang lebih rinci.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ideological State Aparatus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Louis Althuser, adalah orang yang menjabarkan pandangan Marx dalam analisa kritis. Serupa dengan Gramsci, menurutnya teori dialektika historis dalam wilayah sosial dalam thesis Marx, memiliki kekurangan-kekurangan. Wilayah yang dikritisinya adalah, bahwa telah menjadi kebutuhan jika intelektual yang nota bene berasal dari kelompok menengah untuk mengorganisir pergerakan kelompok bawah (proletar) dalam menghadapi kelompok atas (borjuis). Posisi kelas menengah ini terabaikan dalam teori Marx kalau tidak boleh dikatakan hanya disinggung sedikit. Kemampuan kelompok ini mereorganisasi diri dalam bentuk kelompok-kelompok kepentingan adalah adaptasi terhadap pola represi dan hegemoni yang dihadirkan kelas dominan.&lt;br /&gt;Serupa dengan pandangan Althuser, adalah pendapat Dominic Strinati, ilmuwan sosial yang membahas Gramsci, bahwa kenyataan tidak munculnya kelas-kelas perlawanan adalah, kenyataan bahwa tindakan represif dari kelas dominan tidak mengalami perlawanan frontal melainkan masyarakat terdominasi memiliki alasan sendiri untuk menerima kondisi didominasi. Singkatnya masyarakat awam dan sekelompok intelektual menganggap bahwa hegemoni adalah kenyataan hidup, untuk itu dianggap saja sebagai suratan nasib.&lt;br /&gt;…Gramsci’s theory suggests that subordinated groups accept the ideas, values and leadership of the dominant group&lt;br /&gt;not because they are physically or mentally induced to do so, nor because they are ideologically indoctrinated,&lt;br /&gt;but because they have reason of their own.&lt;br /&gt;Teori dari Gramsci menyebutkan bahwa kelompok subordinat menerima ide-ide, nilai-nilai dan kepemimpinan dari kelompok dominan bukan karena alasan fisik atau mental belaka, sehingga mereka untuk terpaksa menerima hal demikian, tidak juga karena alasan doktrin ideologis, namun karena mereka memiliki alasannya sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan kurangnya kesadaran awam akan perubahan maka dalam transformasi sosial, kelompok menengah, kaum terpelajar, dan intelektual memainkan peran penting dalam struktur kekuasaan di wilayah publik. Adalah terlalu naif mengharapkan persoalan kelas diselesaikan oleh kelompok terdominasi tanpa adanya keterlibatan kelompok intelektual dan kaum agamawan (moralis). Pentingnya peran kelompok ini menjadi alasan bagi kelompok dominan (negara dan kapital) untuk mengambil alih kepemimpinan dan mengusai kelompok moralis-intelektual dalam kontrol gugus kekuasaan mereka. Gugus ini berfungsi menjinakkan intelektual dan memfungsikannya sebagai bumper kekuasaan dominan dalam menghadapi kelompok-kelompok perlawanan.&lt;br /&gt;Gugus ini oleh Althusser disebutnya dengan istilah Ideological State Apparatus/ISA (aparatur ideologis negara) istilah yang dikembangkannya dari gugus aparatur negara (State Apparatus/SA) dari Karl Marx. Dalam teorinya Marx membagi praktik hegemoni apartur ini kepada gugus&lt;br /&gt;· Aparatur Pemerintah&lt;br /&gt;· Aparatur Administratif&lt;br /&gt;· Polisi&lt;br /&gt;· Tentara, dan Pengadilan&lt;br /&gt;· Pejabat aparatur negara.&lt;br /&gt;Kesemuanya menurut Marx berfungsi sebagai Repressive State Apparatus, aparatus penekan. Pada praktiknya elemen negara ini akan berlaku represif dalam rangka menjalankan prosedur pengontrolan terhadap kelompok-kelompok terdominasi. Lebih jauh, dalam gagasan teorinya, Louis Althusser menambahkannya dengan ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Aparatur Agama,&lt;br /&gt;· Aparatur Pendidikan,&lt;br /&gt;· Aparatur Keluarga,&lt;br /&gt;· Aparatur Hukum&lt;br /&gt;· Aparatur Politik&lt;br /&gt;· Aparatur Perdagangan&lt;br /&gt;· Aparatur Departemen Penerangan&lt;br /&gt;· Aparatur Kebudayaan&lt;br /&gt;Gugus yang ditawarkan Althusser dikemudian hari menjadi bagian penting dari terminologi hegemoni modern yang lebih kompleks. Bahwa kenyataannya pengadaan lembaga-lembaga ini difungsikan untuk membagi, memecah, atau mengakomodasi kelompok-kelompok intelektual dalam disiplin-disiplin parsial kelompok kepentingan dan mengalihkannya dari ide-ide keadilan, kesetaraan, kesamaan, universal yang dibutuhkan masyarakat. Aparatur penekan ini juga berfungsi sebagai alat kontrol kepada interest groups dalam masyarakat. Fungsinya tidak sekedar represif belaka tetapi lebih kepada penciptaan akomodasi imaginer (khayal) yang menghubungkan kepentingan tiap individu dalam masyarakat untuk berperan serta menunjukkan identitas dan aktivitas mereka untuk ”turut” serta “membangun” bangsa.&lt;br /&gt;Keberadaan institusi Ikatan Dokter Indonesia, ICMI, ‘Pemuda Kalimantan’, ‘Sulawesi’, ‘Persatuan Mahasiswa Sumatera’, Anak Muda Islam, Kristen, atau ‘Aliansi Warung Tegal (cnth)’ adalah wujud dari pemilahan kekuatan penekan dengan cara manipulatif dalam format-format kecil agar lebih mudah dikontrol dan berlaku parsial dalam perjuangannya. Sadar atau tidak bentuk-bentuk pengecilan format ini dengan sendirinya mengecilkan aktivitas dan wilayah perlawanan. Lebih jauh kelompok-kelompok ini hanya dijalankan dengan pandangan sentimentil kesukuan, keprofesian, keagamaan, keilmuan dll, dan bukan lagi sebuah gerakan ideologis yang universal maupun praktis perlawanan terhadap hegemoni sosial.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Said dan Hegemoni Ruang Hidup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Teori dari Gramsci lebih jauh dikembangkan oleh Edward Said kepada hegemoni dalam wilayah teritorial dan kebudayaan, dimana dikemudian hari teorinya sangat berpengaruh dalam studi-studi budaya. Agak berbeda dengan Althusser dan Gramsci, hegemoni dalam pandangan Said, bukanlah sekedar praktek dominasi kelas superstruktur terhadap basis atau borjuis terhadap proletar. Said mengembangkan praktek hegemoni ini dalam lingkup kawasan; antara barat dan timur, antara para orientalis dan oksidentalis, antara negara kaya dan miskin, antara budaya barat dan budaya timur, antara kolonialis dan koloni.&lt;br /&gt;Said menerangkan jika hegemoni budaya barat terhadap timur bekerja dengan cara mereduksi tanda-tanda budaya di timur hanya sebatas tanda-tanda masa lampau, primitif, eksotik dan tak beradab. karena itu dunia barat merasa mimiliki legitimasi untuk melakukan imprealisme dan menjajah negri-negri timur dan selatan. Bagi Said di mana barat wilayah terhegemoni (koloni/negri jajahan) hanya boleh difahami sebagai tanda opposisional/ kebalikan dari kelas menghegemoni (barat). Masyarakat koloni dan ruang tinggalnya merupakan refresentasi dan ruang panggung. Dimana dalam wacana kolonialisme, barat berhak untuk menentukan skenario mengatur harga mengangkat pemerintah boneka dan kontrol budaya terhadap elemen-elemen apapun yang datang dari timur.&lt;br /&gt;Pandangan Said yang menampilkan kenyataan bahwa hegemoni dilakukan pula lintas negara sangat dipengaruhi oleh teori episteme dari Michele Foucault, tentang sistem pendisiplinan tubuh. Tubuh (badan) dalam pandangan Foucault dikembangkan dikembangkan Said menjadi tubuh atau negara.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ruang dan Hegemoni atas Negara&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Henry Levebre, Filsuf Prancis pascamodern menyebut hegemoni dalam bentuk yang lebih detail lagi, bahwa hegemoni adalah proses penguasaan ruang hidup (lebensraum) oleh kekuatan dominan, dengan tujuan menciptakan kelenggengan. Hegemoni dalam ruang ditujukan untuk melanggengkan sistem kekuasaan yang lebih maju dari sekedar masalah pemerintahan. Hegemoni dalam ruang publik adalah politik penguasaan ruang konkrit itu sendiri. Ruang hidup tidak mungkin bebas nilai, ia merupakan medan dialog kekuatan-kekuatan dominan. Dimana penguasaan ruang dilakukan dengan menciptakan tanda-tanda (simbol) keberhasilan sebuah ideologi dalam wujud bangunan megah, pertanian, dan pabrik-pabrik adalah wujud keberhasilan suatu ideologi terhadap ideologi lainnya. Penguasaan ruang sebagai media dikemudian waktu akan menjadi medan pertarungan penciptaan opini dan legitimasi publik.&lt;br /&gt;Lebih jauh ia menyebutkan bahwa hegemoni tidak lagi menjadi dominasi negara, melainkan konsentrasi modal-modal besar untuk menguasai produk akhir&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; berupa barang maupun informasi. Dengan kata lain hegemoni bergerak ke arah penguasaan regulasi, tarif, opini media, dan tentu saja ditujukan untuk penguasaan pasar dengan mutlak.&lt;br /&gt;Kembangan teorinya ini akan membantu studi marketing, mitos, studi budaya, dan tentu saja meneropong pola hegemoni yang lebih-lebih kompleks lagi, yaitu hegemoni liberal, dan globalalisasi demokrasi dalam rangka penciptaan pasar bebas. Lefevbre mengantarkan kita kepada kenyataan jika hegemoni mulai melintasi batas-batas teritorial negara yang dimulai dengan hegemoni perdagangan dan tarif. Privatisasi adalah bukti hegemoni via lembaga eknomi inter-negara seperti IMF untuk memaksa secara halus pemerintah agar berpihak kepada pemodal (asing). Ketika hegemoni keberpihakan terhadap modal kuat seperti ini terus terjadi, seperti keniscayaan menghadapkan negara (state) denga kelompok mayoritas (rakyat) adalah kenyataan.&lt;br /&gt;Kenyataan inilah yang memaksa state/negara sebagai kelompok dominan tidak lagi menganggap hegemoni ditujukan sebagai proses pendisiplinan maupun pengontrolan massa, namun lebih pada kondisi bahwa negara pun sebenarnya Peraturan yang melarang demo-demo mahasiswa, buruh, dan petani di ruang-ruang publik dengan alasan keamanan, kemacetan, RUU pembatasan penyiaran pers, pembatasan warga negara untuk menjadi Presiden dengan alasan kesehatan, adalah pengekangan kebebasan di ruang demokrasi. Seperti yang dibayangkan Lefebvre, gejala ini adalah awal dari keniscayaan berhadapannya state dengan masyarakat dalam kerangka melayani hegemoni asing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hegemoni dan Disiplin Tubuh&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Michele Foucault, definisi hegemoni dikembangkan lebih jauh dan ilmiah. Filsuf postmodernisme Prancis ini memperkenalkan istilah baru dalam termonilogi hegemoni. Ia menyebut bahwa negara harus menjadi penjara ruang untuk mendisiplinkan tubuh. Baginya kekuasaan ada dimana-mana, setiap unsur dalam RT,kekuasaan tidak mungkin dihilangkan. Hegemoni menurutnya&lt;br /&gt;Kekuasaan ada dimana-mana, setiap unsur kuasa dalam kehidupan tidak mungkin dihilangkan. Kekuasaan harus ditujuakan untuk ditujukan mendisiplinkan masyarakat, oleh karenanya setiap orang harus disiplinkan terlebih dahulu sebelum mendisiplinkan masyarakat.&lt;br /&gt;Ia menyebut pula tentang panopticon, yaitu pola-pola pengontrolan negara/wilayah yang ideal. Ide yang diambilnya dari konsep penjara Bantam (desain penjara rekaan arsitek Jeremy Bentam) adalah media untuk pendisiplinan masyarakat. Menurutnya untuk dapat mendisiplinkan masyarakat, negara harus mengontrol ruang hidup masyarakat. Hegemoni model ini telah diterapkan oleh sistem kapital untuk mengkonsep mall-mall, supermarket, dll dimana orang orang dihegemoni dengan kesenangan untuk berputar-putar dan disiplinkan untuk berbelanja. Dugem (dunia gemerlap) di sepanjang jalan di kota-kota besar dapat dikatagorikan dalam jenis pendisiplinan ruang, dimana anak-anak muda didisiplinkan dari tema-tema substansial/inti kepada tema-tema permukaan, dari pada pusing belajar lebih baik joged. Lebih jauh hegemoni ini merasuk ke dalam ruang-ruang keluarga, dalam bentuk pengontrolan melalui pesawat televisi, telepon genggam, dan rekening kartu kredit. Hampir seluruhnya dalam bentuk hegemoni yang bersifat seduksi (menyenangkan).&lt;br /&gt;Pendapat baru inilah yang membuat Gilles Delueze, satu lagi Filsuf Prancis mutakhir, mengetujui teori pendisiplinan tubuh dari Foucault, bahwa kontrol bergerak dari tangan negara (state) ke tangan individu itu sendiri. Hegemoni mutakhir inilah yang menjadi ciri dari model kekuasaan sekarang. Sadar atau tidak milyaran uang dikeluarkan oleh dividu (massa) untuk membuat operator telepon selular menjadi lebih kaya, dengan tarif yang semakin mahal, sementara sebenarnya hak berkomunikasi adalah harkat hidup orang banyak, untuk itu ia harus selalu disubsidi dan dibuat semakin murah. Demikian pula dengan siaran langsung sepak bola asing, yang memberi devisa hak tayang ratusan milyar per tahunnya kepada liga-liga sepakbola di eropa, dan membuat pembinaan persepakbolaan lokal kekurangan perhatian. Juga kaum wanita yang memaksakan tumitnya diganjal sepatu hak tinggi, dan membiarkan dirinya menghegemoni tubuhnya sendiri untuk memperoleh rasa sakit agar dapat dianggap cantik.&lt;br /&gt;Adalah Jean Baudrillard yang melontarkan teori kritis bagaimana hegemoni bekerja di zaman sekarang. Apa yang diungkapkannya adalah kenyataan bahwa kekuasaan sebenarnya bekerja dengan cara yang liat (flubber). Teritorial yang diciptakan tidak lagi ruang hidup (lebensraum), namun ruang-ruang simulasi dan rekaan. Televisi, iklan, hiburan adalah ruang-ruang yang memberikan kesempatan hegemoni melampaui batas-batas demarkasi, negara, budaya, ruang tamu, bahkan ruang tidur kita.&lt;br /&gt;Pada awalnya orang memangan terhegemoni oleh kekuasaan kapital dan politik. Lebih jauh hegemoni bekerja pada ruang-ruang abstrak, simulacrum (khayalan). Ruang direduksi hanya sebatas media prosesi simulasi kekuatan-kekuatan modal dalam tanda-tanda produk hasil ekonomi lanjut (late capitalism). Dalam bentuk janji-janji kekayaan, kecantikan, sukses, dinamis, terbuka, akses hidup yang lebih baik, melalui kartu kredit, pemutih, bimbingan belajar, shampo, dan pengurus tubuh yang membuat anda tampil indah menarik. Dengan satu tujuan mengalihkan orang dari realitas kaya, cantik, pandai, dan indah itu sendiri. Manusia menghabiskan waktunya untuk menikmati hiburan-hiburan virtual (maya) yang menjanjikan pada diri mereka realitas palsu tapi menyenangkan. Istilah yang berkembang untuk gejala penciptaan realitas simulasi ini dikenal akrab dengan nama hyperreality. Meskipun hyperreality sendiri sebenarnya realitas juga.&lt;br /&gt;Inilah dilema dimana ketika manusia berusaha untuk melepaskan diri dari hegemoni-hegeoni material dan ideologi, tanpa sadar manusia melahirkan hegemoni dalam bentuk lain bagi dirinya sendiri. Pada satu titik, hegemoni yang bekerja ini tidak lagi dilakukan oleh negara, melainkan oleh suatu sistem pengontrolan mandiri. Dalam rezim material yang lebih modern, kekuasaan sepenuhnya diberikan kepada kelas-kelas dominan, yaitu mayoritas rakyat. Rakyatlah yang memiliki hak untuk menentukan mulai dari siapa yang akan menang dalam kontes pemilihan presiden melalui voting televisi hingga siapa yang akan tereliminasi dari Kontes Dangdut Indonesia (KDI) di TPI.&lt;br /&gt;Dalam kuasa-kuasa hiburan dan tontonan masyarakat umum (majority) seolah memperoleh hak tertinggi mereka, dimana mereka secara tidak langsung diwajibkan menghabiskan sejumlah pulsa telepon genggam untuk menjawab dan berpartisipasi dalam tema-tema demokrasi kapital. Kelompok mayoritas ini memiliki kekuasaan hampir tak terbatas untuk memberikan pengawasan terhadap idola-idola tontonan, menyimak dan memeriksa isi kamar, dompet hingga problematika rumah tangga selebritis, bahkan mampu mengontrol tindak-tanduk mereka dalam ragam tayangan gosip. Sehingga dapat dikatakan jika pada kondisi ini teori-teori kekuasaan atas dari Marx dengan sendirinya mendapatkan kritikan tajam. Dalam masyarakat terkontrol oleh tontonan (society of spectakles) setiap orang memiliki kekuasaan, kekuasaannya ada di tangannya yaitu remote control. Khalayak pemirsa berhak menentukan pilihan-pilihan hiburan yang mereka inginkan, dengan satu tujuan didisiplinkan untuk jangan pergi kemana-mana setelah iklan berikut.&lt;br /&gt;Dalam medan promiskuitas yang menjanjikan tadi maka ragam materi hiburan apapun dapat yang dimasukkan melalui media-media dalam rangka hegemoni pengontrolan, baik musik dangdut, lagu pop, ceramah agama, kuis ramadhan, temu artis, hingga dzikir taubat nasional. Tujuannya adalah mengalihkan perhatian masyarakat dari kondisi hegemoni dan keterpurukan sosial lainnya. Mengutip Gilles Delueze, dalam manipulasi yang lebih sistematis dan generik dari masyarakat yang terkontrol (society of control) oleh media massa, sebenarnya tidak perlu lagi dipertanyakan, mengenai rezim manakah yang paling toleran. Sehingga lengkaplah praktik hegemoni secara keseluruhan.(ah)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Skema Distribusi Kekusaan Dalam Ruang Sosial, Politik, Ekonomi.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Power (Kuasa)&lt;br /&gt;Power is ability….to define and control circumstences and event so that one can influence of one’s interest&lt;br /&gt;Hegemony&lt;br /&gt;…domination of supremacy of a social group throught leading and dominantion for intellectual and moral leadershipment&lt;br /&gt;Manipulation&lt;br /&gt;Coercion&lt;br /&gt;Vasted-interest&lt;br /&gt;Accepted Subjectivity&lt;br /&gt;Parsial Sentiment&lt;br /&gt;Constrution of Seft identity Seduce and desire&lt;br /&gt;Public Interest&lt;br /&gt;Private corporation&lt;br /&gt;Legitimation&lt;br /&gt;Legalisation&lt;br /&gt;State Apparatus&lt;br /&gt;Force&lt;br /&gt;Agitate&lt;br /&gt;Oppresif&lt;br /&gt;Represif&lt;br /&gt;Intimidate&lt;br /&gt;Dominate&lt;br /&gt;Opposional&lt;br /&gt;Alienation&lt;br /&gt;Support&lt;br /&gt;Cooperate&lt;br /&gt;Positional&lt;br /&gt;Alliance&lt;br /&gt;Propaganda&lt;br /&gt;Ignored Subjectivity&lt;br /&gt;Conspiracy&lt;br /&gt;Tautology&lt;br /&gt;Authority&lt;br /&gt;Seduction&lt;br /&gt;Consent&lt;br /&gt;Forms of Power&lt;br /&gt;**Andihakim dilahirkan pada suatu waktu,&lt;br /&gt;menyelesaikan S1 dan S2-nya karena terhegemoni lowongan kerja.&lt;br /&gt;Sekarang menghegemonikan dirinya di kajian-kajian LK dan pasca LK Hmi dalam Training Revolusi Kesadaran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Antonio Gramsci : Selection from Prison Notebooks : Quinttin Hoare dan Geoffrei : Lawrence&amp;amp;Wishart, London 1971. hlm. 80&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Idem hlm. 57.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Idem hlm 334&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Strinati, Dominic. An Introduction to Theories of Popular Culture, Routledge, London. 1995. hlm 166.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2915757540770183657#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Bedakan dengan Marx, Gramsci yang menganggap bahwa hegemoni adalah masalah prosedural pendisiplinan. Bagi Lefevbre kekuatan kapital tidak lagi berkonsentrasi di wilayah ini, karena lebih mementingkan jalur distribusi dan produk akhir itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2915757540770183657-3628960995633768477?l=hmistmatrisakti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/feeds/3628960995633768477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2915757540770183657&amp;postID=3628960995633768477&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/3628960995633768477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2915757540770183657/posts/default/3628960995633768477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hmistmatrisakti.blogspot.com/2008/03/teori-hegemoni.html' title='Teori Hegemoni....'/><author><name>HMI Komisariat STMA Trisakti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11760471617392123911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_MXBfPxaxK4U/SBbHo8zjm1I/AAAAAAAAAAs/tZ70kjouPik/S220/Logo+HMI+STMA+Trisakti.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
